Pertemuan
ke-1 (Kamis, 13 September 2018)
Inilah
hari pertama perkuliahan Filsafat Ilmu dengan Bapak Marsigit. Beliau merupakan
dosen mata kuliah Filsafat Ilmu sekaligus Direktur Pascasarjana. Hari itu Pak
Marsigit terlambat masuk, pada pukul 07.50 WIB beliau baru sampai di kelas.
Awal pertama Pak marsigit, saya dan teman-teman merasa tegang, karena beliau
adalah direktur pascasarjana dan apalagi beliau meminta posisi duduk diubah
melingkar. Saya bertanya-tanya pada diri saya sendiri, “kok aneh ya? padahal
sudah rapi terus kenapa diubah?”. Nah ternyata posisi duduk seperti ini membuat
lebih dekat dan jelas.
Selanjutnya,
perkuliahan diawali salam serta membaca Istighfar 5 kali, Al-Fatihah 1 kali dan
Al-Ikhlas 3 kali. Pak Marsigit mulai berkenalan dengan para mahasiswa. Beliau
menanyai nama dan asal mahasiswa satu-satu, ada yang dari sumatra, ada yang
dari jawa, ada yang dari kalimantan, dan ada yang dari sulawesi.
Kemudian
mahasiswa diminta untuk merekam pertemuan pertama ini. Saya berfikir, “Ini kok
kuliahnya berbeda dengan yang lain ya?”. Selanjutnya membuka google dan mencari
nama marsigit dipencarian google.
Ternyata banyak sekali nama marsigit dalam pencarian google dan membuka
wikipedia Pak Marsigit. Didalam wikipedia itu, berisikan biodata diri Bapak
Marsigit. Setelah itu kami diminta melihat lokasi rumah Pak Marsigit di Map. Beliau
mengatakan “hal itu menandakan bahwa Pak Marsigit benar-benar ada, nyata”. Oh
ternyata alasannya seperti itu.
Setelah
itu mahasiswa diminta membuka youtube dan mencari video ketoprak yang berjudul “rembulan
kekalang UNY” dan diminta menyaksikan video ketoprak yang berdurasi hampir 4
jam tersebut. Nah saya bertanya-tanya lagi pada diri saya, “kok malah nonton
youtube yang berdurasi hampir 4 jam, padahal perkuliahan hanya 100 menit?”.
Ternyata Kami menonton hanya di bagian-bagian tertentu dari video tersebut,
dimana di bagian-bagian video itu terdapat peran Bapak Marsigit sebagai raja.
Setelah
selesai menonton youtube, mulailah memasuki pembicaraan tentang filsafat.
Beliau mengatakan, belajar filsafat bisa dari mana saja, contohnya dari video
ketoprak kekalang rembulan UNY tadi. Didalam video ketoprak ada tarian,
politik, seni rupa, suara dan seterusnya. Didalam video ketoprak tadi, terdapat
sisi-sisi kebaikan dan keburukan. Dalam filsafat, diriku ya diriku, dan dirimu
ya dirimu. Belajar filsafat harus banyak membaca dan filsafat itu semuanya. Sebenar-benar
filsafat adalah pikiran. Filsafat itu semua bisa menjadi referensi, setidakpenting
apapun bisa menjadi awal ilmu filsafat dan sesuatu yang sepele bisa menjadi
filsafat.
Pertemuan
ke-2 (Kamis, 20 September 2018)
Inilah hari kedua
perkuliahan Filsafat Ilmu dengan Bapak Marsigit. Kali ini beliau tidak
terlambat masuk. Sebelumnya kami sudah membuat posisi tempat duduk seperti
pertemuan sebelumnya. Pak Marsigit bertanya kepada mahasiswa apakah pertemuan pada
minggu lalu sudah membuka wikipedia dan lain-lainya. Para mahasiswa menjawab
sudah. Kemudian Beliau bertanya kepada para mahasiswa apa arti dari nama para
mahasiswa. Salah satu mahasiswa yaitu Mas Darwis. Pak Marsigit menanyai arti namanya,
dan Mas Darwis menjawab bahwa menurut ayahnya nama Darwis itu artinya orang
yang mencari ilmu.
Beliau mengatakan bahwa orang
yang berpendidikan, orang yang mengerti masa depan, orang yang mengerti adat pasti
membuat nama dengan maksud, aturan, dan tidak sembarangan atau tidak asal. Ada
pula nama-nama yang sensasional, tapi itu menentang arus, menentang kebenaran,
dan menentang nurani, seperti memberi nama Setan, Tuhan. Namun, Pak
Marsigit mengatakan bahwa beliau belum
pernah mendengar ada orang tua yang memberi nama anaknya dengan nama Allah,
meskipun segila-gilanya orang tersebut. Pak Marsigit berpendapat bahwa
mungkin orang tua yang memberi
nama anaknya dengan nama Tuhan mungkin berpikir bahwa Tuhan itu
bisa selain Allah. Membuat nama asal bingung ya bisa saja, misal namanya
“Siapa”, “Apa”. Kalau ditanya orang, “kamu namanya siapa?”. Terus dia menjawab “Apa”. Kamu ditanya kok malah
balik nanya? Makanya, sebagai orang tua jangan memberi nama anaknya dengan
asal-asalan.
Pak Marsigit
kembali menanyakan arti nama mahasiswa, mahasiswa tersebut yaitu Mba
Eka, Mba Rindang, Mba Rosi, Mas Fabri, Mba Rahmi dan Mba Aan. Kemudian, Pak
Marsigit menjelaskan arti nama beliau, secara klasik, secara kontemporer dan
dari sudut pandang spiritual.
Secara klasikal, menurut
beliau arti nama Marsigit dapat dibagi dalam dua suku kata yaitu kata Mar
berarti tersamar atau tersembunyi, dan tersamar atau tersembunyi itu adalah
hakikat ilmu. Sedangkan kata Sigit berarti bagus atau tampan. Sehingga secara
utuh arti nama Marsigit adalah sebagai orang tampan yang
selalu mencari ilmu. Namun berdasarkan sejarah, nama beliau merupakan
keinginan ayah beliau agar anaknya pintar seperti gurunya yang bernama
Marsigit.
Secara kontemporer,
menurut beliau arti nama Marsigit dapat dibagi dalam tiga suku kata yaitu Mar,
Si, dan Git. Mar diambil dari nama planet yaitu Mars, Si diambil dari kata
dalam Bahasa Inggris yaitu see yang artinya melihat, dan Git yang juga diambil
dari kata dalam Bahasa Inggris yaitu gate yang artinya pintu gerbang. Sehingga
apabila secara utuh arti nama Marsigit adalah
sebagai pintu gerbang
menuju Planet Mars.
Dari Sudut pandang spiritual,
menurut beliau merupakan yang paling berat dan memiliki nilai perjuangan.
Marsigit jika ditarik ke dalam Bahasa Arab adalah Ma, Si, Jid atau Masjid.
Masjid terdiri dari empat huruf arab yaitu: “Ma”, “Sin”, “Jim”, dan “Dal”. “Ma”
itu berarti magfirah atau ampunan, “Sin” itu berarti sakinah/ teduh, aman,
tentram, abadi. Sedangkan “Jim” itu berarti (hmm beliau lupa), dan “Dal” itu
derajat, sehingga mampu memperoleh derajat baik di dunia maupun akhirat. Beliau
mengatakan bahwa nama adalah doa dan motivasi, jadi haruslah mengandung arti
yang baik-baik dan positif.
Selanjutnya dilakukan tes
jawab singkat yang menjadi inti perkuliahan, dimana mahasiswa diminta
menyiapkan selembar kertas yang telah diberi nama dan digunakan untuk
menuliskan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan oleh Pak
Marsigit. Adapun pertanyaannya sebagai berikut : Kenapa anda kuliah? Kenapa anda terlambat? Kenapa anda tampak sedih?
Kenapa anda menulis? Kenapa anda mendengarkan pertanyaan saya? Kenapa anda duduk
melingkar? Kenapa ruangannya dingin? Kenapa suara di luar masih terdengar? Kenapa terkejut?
Kenapa menangis?
Kenapa tersenyum? Kenapa bertengkar? Kenapa berbohong?
Kenapa menyontek?
Kenapa menyebarkan
hoax? Kenapa benci? Kenapa menuduh? Kenapa tidak adil? Kenapa memfitnah?
Kenapa tak mau mengerti?
Setelah seluruh mahasiswa selesai
menjawab pertanyaan singkat tersebut, Pak Marsigit memerintahkan agar lembar
jawaban mahasiswa ditukarkan pada teman untuk dikoreksi bersama. Menurut beliau
jawaban dari mahasiswa tidaklah lengkap, kebanyakan jawaban tersebut telah mendzholimi
hak jawaban lainnya yang belum sempat diutarakan. Menurut beliau jawaban dari 20
soal pertanyaan singkat tersebut haruslah
diawali dengan kata “Belum Tentu Karena”, kemudian baru bisa diikuti oleh
jawaban yang ingin dituliskan oleh mahasiswa.
Sebagian manusia itu sering tergoda menganggap
dirinya mengerti. Filsafat itu berbeda dengan matematika, jika dalam matematika
yang tadinya tidak paham menjadi paham, maka sebaliknya dalam filsafat yang tadinya
paham justru menjadi tidak paham.
Pak Marsigit menyampaikan
bahwa tugas beliau adalah mengguncang-guncangkan pikiran para mahasiswanya.
Seluruh mahasiswa mendapat
skor 0 pada
tes jawab singkat
di atas, menandakan tugas Pak
Marsigit berhasil. Terjadi goncangan di dalam pikiran itu tidaklah masalah, tetapi
janganlah terjadi goncangan di dalam hati. Karena sedikit goncangan di dalam
hati, maka menyebabkan datangnya syaiton/setan.
Filsafat apabila
ditingkatkan akan menjadi spiritual. Spiritual itu adalah perasaan, doa, kuasa
Tuhan, namun tidak cukup hanya dengan pikiran. Prinsip-prinsip spiritualitas
sebagian juga berlaku di dalam filsafat, misalnya dalam kehidupan sehari-hari
bahwa manusia itu tidak boleh sombong. Sombong itu adalah godaan syaithon,
dimana sombong itu menutup diri dan merasa bisa dibanding orang lain. Di dalam
filsafat, ilmu yang paling tinggi adalah dimana seseorang merasa bahwa dirinya sudah
tidak bisa memahami apapun. Sehingga dunia ini kontradiksi, dimana Marsigit
tidak sama dengan Marsigit. Jika A = A maka itu harus terbebas dari ruang dan
waktu, dan yang terbebas dari ruang dan waktu adanya di dalam pikiran.
Selanjutnya mahasiswa
diminta menulis pertanyaan, Pak Marsigit menjawab pertanyaan dari Mba Rahmi
tentang dimana letak perasaan Pak Marsigit. Letak perasaan Pak Marsigit
harapannya ada pada seluruh yang ada di dunia dan di akhirat. Jika kita dapat
menanyakan tentang letak perasaan maka kita juga dapat menanyakan letak
pikiran. Letak pikiran juga ada pada seluruh yang ada di dunia dan di akhirat.
Maka ini berkaitan pula dengan obyek filsafat, dimana obyek filsafat adalah apa
yang ada dan yang mungkin ada. Apa yang ada berarti semua yang pernah engkau
pikirkan dan yang sedang kau pikirkan. Sedangkan yang belum ada berarti belum
ada di dalam pikiran. Contoh warna handphone, kita melihat berwarna hitam. Namun
apabila handphone ditutup dengan kertas dan kita ditanya apa warnanya, pasti
kita tau bahwa warnanya hitam. Hal itu karena handphone berwarna hitam sudah
ada di dalam pikiran.
Pertemuan
ke-3 (Kamis, 27 September 2018)
Inilah hari ketiga
perkuliahan Filsafat Ilmu dengan Bapak Marsigit. Sebelum bapak datang kami
sudah membuat posisi tempat duduk seperti pertemuan sebelumnya. Sebelum masuk pada inti perkuliahan,
mahasiswa diberikan pengantar terkait dengan materi yang akan diberikan.
Kuasa Tuhan dapat menjawab
filsafat, contohnya seperti tidak punya uang, lapar, dan mengantuk. Batuk
kemudian menggunakan masker adalah salah satu contoh dari good behavior. Jaman dulu menggunakan masker justru membuat merasa
malu kalau ketahuan sedang sakit. Justru menjadi munafik karena telah menyebarkan
virus. Sesungguhnya sakit itu adalah suatu titik dimana derajat kita dinaikan
oleh Allah SWT.
Merokok merupakan contoh dari
bad behavior. Tidak semua orang
menyukai adanya asap rokok. Ada yang tidak bisa merokok dan menggunakan rokok
hanya untuk bergaya. Banyak anak kecil terkena pengaruh rokok biasanya karena
ingin mencari jati diri. Dan masih banyak lagi contoh lainnya.
Kemudian seperti pertemuan
sebelumnya dilanjutkan dengan menyiapkan selembar kertas yang akan digunakan
untuk Tes Jawab Singkat. Adapun pertanyaan-pertanyaanya beserta jawabannya
sebagai berikut. Apa sebab? Sebab. Sebab apa? Sebab. Mengapa sebab? Sebab. Sebab mengapa? Sebab. Bagaimana sebab? Mengada. Sebab bagimana? Sebab. Dimana sebab? Pikiran. Sebab dimana? Sebab. Bagaimana mengapa? Mengada. Mengapa bagaimana? Sebab. Mengapa dimana? Sebab. Dimana mengapa? Pikiran. Apa akibat? Mengada. Akibat apa? Sebab. Sebab akibat? Sebab. Akibat sebab? Akibat. Akibat akibat? Akibat. Dimana akibat? Pikiran. Akibat dimana? Akibat. Sebab sebab sebab? Sebab
Setelah itu mahasiswa
diberi kesempatan untuk bertanya, adapun pertanyaan beserta jawaban pak
marsigit sebagai berikut.
Pertanyaan
pertama, “Mengapa
Bapak membuat pertanyaan semacam itu?” (Dalam Tes Jawab Singkat)
Pak Marsigit menjawab
bahwa objek filsafat meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Objek filsafat
bisa disebut juga objek formal dan objek material. Maka sebenar-benar
berfilsafat, sebenar-benar olah pikir dan sebenar-benar orang belajar adalah
mengadakan dari yang mungkin ada menjadi ada di dalam pikiran. Alasan dari “Mengapa Bapak membuat
pertanyaan semacam itu? (Tes Jawab Singkat)” adalah karena ingin menyadarkan
atau mengadakan dari yang mungkin ada menjadi ada dalam suatu persoalan.
Ketelitian pikiran seperti “apa sebab?”, sebab dari kata sebab yang berarti
sebab. Sehingga apa yang ada di dunia ini adalah sebab. Sebab dari suatu sebab
adalah sebab. Karena semua yang ada di dunia ini adalah sebab. Ada sebab primer
dan sebab sekunder, sedangkan sebab yang utam dan pertama adalah Allah SWT. Ada sebab primer dan sebab sekunder. Ada
sebab utama dan sebab yang pertama yaitu Allah SWT karena tidak ada sebab lagi
yang mendahului-Nya. Setelah itu semua ciptaan adalah sebab. Bisa saja menjawab
akibat atau sebab dan bisa saja menjawab ada. Ada apa? Ada sebab. Contoh apa
itu akibat? Bisa saja dikatakan ada. Agar lebih bermakna (karena filsafat naik
turun atau sesuai dengan tujuan mengenalkan adanya kata-kata akibat, sebab dan
sebagainya), jawabannya bisa pengada. Bagaimana mengapa? Bagaimana adalah
proses. Proses dalam filsafat yang substantif, ontologis, dan hakiki semua
proses adalah mengada. Mengada dari ada menjadi pengada. Semua yang adalah
pengada. Semua yang ada adalah mengada. Semua yang ada adalah ada. Mengapa
berulang-ulang? Ini karena aturan. Aturan hirarkisnya adalah ada, mengada,
kemudian baru pengada. Pengada itu hasil. Semuanya bisa dibolak-balik karena
ingin membuat bingung pikiran untuk pembelajaran. Jika sudah pasti justru sulit
belajar filsafat, maka belajar.
Belajar filsafat adalah membongkar sesuatu yang sudah jelas di dalam pikiran
manusia. Kebanyakan pikiran manusia terperangkap di dalam mitos. Mitos
merupakan lawan dari logos. Logos itu berpikir atau berfilsafat. Sehingga mitos
dapat disimpulkan tidak berpikir. Maka sebenar-benarnya hidup adalah mitos dan
logos.
Anak kecil belajar
menggunakan mitos dimana mengerjakan sesuatu dimana kita tidak mengerti.
Seperti kita menyuapi anak kecil, bermain dengan anak kecil dan sebagainya.
Anak kecil tidak paham dengan apa yang kita lakukan. Naik ketingkat spiritual,
mitos bukanlah mitos tetapi keyakinan yang harus diterima dalam yakin kita.
Salah ruang dan salah waktu atau mempelajari filsafat sepenggal-sepenggal bisa
berbahaya karena bisa berbeda makna. Filsafat tidak bisa dipadatkan dan
dipercepat. Jika anak kecil memakai logos, maka tidak adakan bisa terlaksana.
Contohnya saat kita akan memberi makan anak kecil, kita mengharuskan anak kecil
untuk tahu apa itu makan terlebih dahulu. Hal tersebut tentu tidak bisa
dilakukan kepada anak kecil karena bisa kelaparan. Dari yang problem solver justru bisa menjadi problem maker bila balajar filsafat
secara tidak utuh. Hidup juga ada pilihan antara problem solver atau problem
maker. Harus terus berikhtiar karena tidak ada barang yang ada di dunia
selalu terwujud.
Pertanyaan
kedua “Apakah semua
pertanyaan punya jawabannya?”
Pak Marsigit menjawab
bahwa semua pertanyaan pasti punya jawaban tapi tidak selalu harus dijawab.
Sebenar-benarnya hidup adalah pertanyaan. Semua itu pertanyaan dan semua adalah
jawaban. Tapi tidak semua pertanyaan harus dijawab dan tidak semua jawaban itu
harus diucapkan. Didiamkan saja sudah merupakan jawaban. Contoh ada mahasiswa
dari luar negeri dan mendapat beasiswa sebanyak 15 orang. Beasiswanya meliputi
kuliah gratis dan biaya-biaya yang lainnya bisa dipikirkan sendiri tapi ada
yang mengirim e-mail kepada Pak Marsigit berterimakasih telah memberikan
beasiswa dan mohon minta bantuan dana untuk tinggal di Indonesia bersama dengan
istrinya. Oleh Pak Marsigit tidak dijawab yang artinya tidak menjawabpun
merupakan jawaban. Tidak setuju dengan filsafat adalah berfilsafat. Anti
filsafat itu filsafat. Filsafatnya dalah antifilsafat. Karena tidak mau
berpikir maka juga berpikir. Alat
yang dipakai untuk belajar filsafat adalah bahasa analog. Analog itu tidak sekedar
sama tapi analog itu komformitas dua keadaan atau dua dunia. Postingan pada
blog Pak Marsigit kadang-kadang sulit dipahami karena menggunakan bahasa
analog. Jika menunjuk hati, maka maksudnya banyak. Hati bisa cintaku, bisa
imanku, bisa perasaanku, bisa akhiratku, bisa akidahku, bisa kuasa Tuhan
melalui hati. Jika hati akhirat maka selain hati adalah pikiran. Pikiran adalah
dunia. Bagaimana bisa membangun dunia dan akhirat? Berfilsafat itu menggunaan
solusi. Berfilsafat itu berpikir menggunakan bahasa logos. Seperti semut
membangun dunia menggunakan lumpur untuk membuat rumah, ikan menggunakan air
untuk membangun dunia, tukang menggunakan bata untuk membangun dunia, dan hati
kita membangun dunia dan akhirat menggunakan hati. Filsafat menggunakan pikiran
dan bahasa. Caranya adalah cukup dengan A dan bukan A. A itu bisa semuanya
seperti pulpen dan air. Bukan A itu seperti bukan pulpen dan bukan air. Dunia
dan akhirat adalah air dan bukan air. Bukan air bisa saja neraka, bisa saja
Tuhan, bisa saja ayat suci. Tertangkap semua disana dan tidak ada yang tersisa.
Pak Marsigit juga bukan air. Sehingga dunia dan akhirat ini bisa Pak Marsigit
dan bukan Pak Marsigit. Setiap ada dan yang bukan ada sudah bisa membangun
dunia. Seorang filsafat harus bisa berpikir dengan mudah untuk membangun dunia
tanpa berdarah-darah (berjuang). Hanya saja Pak Marsigit melihat sebagian besar
tidak sedang dalam keadaan hidup. Apa hidup itu? Hidupnya batu, artinya kena
air bisa pecah dan mengecil. Batu kecil juga bisa menjadi batu besar saat
terendam lumpur. Hal tersebut merupakan hal yang sedang hidup. Contoh lain adalah ada tetangga yang
meninggal dunia karena tukang tapi tidak ada pekerjaan dan hanya di rumah saja
tidak berangkat. Sebenar-benarnya tetangga tapi sudah meninggal dunia karena
sedang tidak bekerja sesuai pekerjaannya. Ada pula tetangga yang meninggal
dunia karena pedagang tapi tidak punya modal. Baju dan jilbab juga bisa
meninggal dunia karena sudah lama tidak digunakan dan hanya disimpan saja di
lemari. Perusahaan juga bisa meninggal dunia karena logonya sudah terkelupas.
Gunung juga bisa meninggal dunia karena sudah tidak dapat meletus lagi. Dalam berfilsafat itu adalah berpikir.
Orang-orang yang sedang tidak berpikir adalah mayat-mayat yang berjalan.
Seperti mahasiswa yang belum lulus Toefl tapi ingin lulus yudisium sehingga
seperti mayat hidup. Jika ditingkatkan dalam spiritual, maka bisa dicontohkan
sebagai orang-orang yang menaiki motor. Orang-orang tersebut adalah mayat hidup
karena sedang berkendara dalam keadaan tidak berdoa. Orang-orang yang sedang
melakukan ibadah haji di Makah juga merupakan mayat karena lupa dan bersendau
gurau dalam melaksanakannya. Matinya
spiritualitas adalah tidak berdoa. Matinya seorang ibu adalah tidak merawat
bayinya. Matinya sebuah motor adalah saat dihidupkan tidak dapat menyala. Manusia
sebenarnya terancam kematian mulai dari fisik sampai hati.
Berfilsafat harus
cerdas. Orang cerdas banyak yang tidak disukai orang terutama penguasa. Karena
jika penguasa korupsi maka bisa ketahuan. Definisi hidup dan mati adalah
pikiran manusia. Jika ingin absolutely maka lari ke kitab suci. Contoh di Al-Qur’an, apa yang
tertulis disana terkait hidup dan mati.
Pertanyaan
ketiga “Apakah kalau
‘dimana’ jawabannya selalu ‘pikiran’?”
Pak Marsigit menjawab
bahwa belum tentu. Dihati juga bisa dihati. Karena berfilsafat harus dipikiran
dulu. Setelah itu boleh di hati. Pikiran berada disetiap yang ada yang bisa
dipikirkan. Contoh sedang memikirkan orang tua maka pikiran sedang di orang
tua. Pikiran ada disetiap objek pikir yang bisa dipikirkan. Hati ada di setiap
titik yang bisa dirasakan. Rasa secara analog bisa didoakan. Contoh hatiku ada
di Palestina artinya sedang merasakan dan sedang berdoa untuk orang Palestina,
hatiku ada di Korea karena mendoakan kedamaian di Korea, hatiku ada di para
astronot karena mendoakan para astronot, dan lain sebagainya. Metode berpikir
filsafat adalah mendalam-dalamkan sampai sedalam-dalamnya. Tidak bisa
terjangkau lagi oleh pikiran walaupun sangat kecil dan sangat ringan bagi orang
lain. Memperluas seluas-luasnya sampai tidak mampu menjangkaunya dalam pikiran
walau bagai orang lain sangat sempit karena filsafat itu dirimu. Filsafat itu
bacaanmu. Filsafat itu kata-katamu. Filsafat itu penjelasanmu. Maka, kuliah ini
mempersilakan untuk berfilsafat sehingga bacalah dan buat comment di blog karena saat itulah sedang berfilsafat. Pak Marsigit
tidak interfensi dan dipersilakan komentar secara bebas. Tidak perlu khawatir
salah berbicara tetapi komentar yang berkualitas buruk, berbahaya, dan terancam
kematian adalah menulis komentar tanpa berpikir dan tidak mengerti seperti
hanya copy paste. Terancam mati bisa
dari batu sampai langit. Mulai dari bentuk fisik sampai hatinya terancam
kematian.
Pertanyaan
keempat “Apakah diam
itu good behavior?”
Pak Marsigit menjawab
bahwa diamnya siapa? Matinya siapa? Mayatnya siapa? Diam pikiran, ramai dalam
kesepian. Walaupun Pak Marsigit bertemu dengan orang banyak di Pascasarjana,
tetapi hatinya sebenarnya sedang kesepian karena tidak ada teman yang bisa
diajak berbicara filsafat. Sebenar-benarnya diam, sebenarnya tidak diam. Diam
absolut hanya milik Allah SWT. Sebenar-benarnya manusia hanya bisa berikhtiar
dan berusaha diam tapi tidak akan bisa diam. Orang mati juga tidak bisa diam
karena hanya menumpang pada bumi dan bumi bergerak. Sehingga mayat-mayat
seperti melakukan perjalanan berputar pada poros bumi dan mengelilingi
matahari. Jika mayat-mayat diam justru semakin menjauh dari kita karena kita
yang berjalan. Ketika pulang melewati kuburan kemudian melewatinya lagi dilain
hari, artinya membersamai melakukan perjalanan berputar pada poros bumi dan
mengelilingi matahari. Dua jet tempur yang memiliki kecepatan hingga 2.000
km/jam termasuk diam karena pilotnya bisa mengelilingi dunia hanya dengan 2
jam. Diam itu tergantung. Jika dua benda melakukan perjalanan dengan kecepatan
yang sama maka dinamakan diam. Bernafas dalam dengan bernafas pendek
kecepatannya berbeda sehingga tidak diam. Para mayat diam terhadap perjalanan
manusia yang masih hidup. Tapi terhadap alam semesta, semua makhluk hidup
melakukan perjalanan. Jika terhadap alam semesta mayat diam, maka tertinggal
dari kita dan tercabut dari bumi. Seperti gelas minum berarti diam karena
memiliki kecepatan berputar terhadap bumi dan mengelilingi matahari yang sama
dengan manusia. Jika tidak diam maka manusia tidak akan bisa minum air yang ada
di gelas dengan mudah. Air bisa masuk ke tangki karena kecepatannya sama. Jet
tempur bisa diisi bahan bakar dengan
tangki udara karena kecepatannya sama. Ketika ada
pertanyaan apakah diam itu baik? Jawaban
dari Pak Marsigit adalah pertanyaan tersebut adalah pertanyaan orang awam.
Seperti sedang didiamkan istrinya. Itu adalah kehidupan orang awam.
Pertanyaan
kelima “Mengapa filsafat menggoyahkan yang
mantap menjadi tidak mantap?”
Pak Marsigit menjawab
bahwa kehidupan berfilsafat menggunakan ilmu. Pak Marsigit bisa menjawab
pertanyaan-pertanyaan karena menggunakan fisika sehingga belajar metafisika.
Contoh metafisika bisa melalui warna handphone Pak Marsigit. Semuanya menjawab
hitam padahal semuanya salah dan tidak ada yang menyadarinya. Ilmu fisika
mengatakan, warna adalah gelombang pantulan dari benda karena sinar. Tapi yang
sebenar-benarnya warna adalah milik yang terserap dari benda itu yang tidak
dipantulkan. Maka warna hitam sebenarnya adalah pantulan dari cahaya yang
memasuki mata. Apa yang dipantulkan kemata bukan warnanya melainkan yang
terserap dari benda. Jadi warna handphone Pak Marsigit adalah selain hitam. Manusia
pada hakekatnya dalam keadaan merugi karena salah tapi sebagian kecil dari
mereka mengetahui kesalahannya. Berfilsafat merefleksikan diri dan bukan diri.
Diri dan yang lainnya. Karena
sebenarnya yang mantap
itu sudah berupa menjadi mayat akibat tidak berpikir lagi. Berfilsafat adalah
olah pikir yang sebenar-benarnya. Seperti warna handphone tadi, jika mantap
mengatakan berwarna hitam maka tidak berpikir. Itulah mengapa manusia sering
terperangkap oleh mitos. Pikiran kacau sedang mengalami disorientasi. Filsafat adalah sopan santun. Filsafat adalah
kedudukan. Filsafat adalah adab. Filsafat adalah derajat. Untuk memperolah
derajat yang tinggi, maka raihlah maghfirah, sakina, mawadah, dan warahmah.
Hidup harus semangat agar tidak terancam kematian. Sebenar-benarnya mayat, sudah
tidak berfungsi seperti dengan fungsinya. Itulah keterbatasan manusia.
Pertanyaan
keenam
“Bagaimana resep dari
Pak Marsigit agar tidak mudah mengeluh?”
Pak Marsigit menjawab
bahwa salah satu agar tidak mudah mengeluh adalah banyak ilmu. Ilmu itu dalam
zikir atau ilmu dalam hati. Semua itu resep. Seperti resep nasi goreng, hanya
ada satu tapi bisa dibuat 1000. Resep itu diatas, dilangit dan yang 1000 ada di
bumi. Semua itu bayangan dari pikiran dan hati. Jika dinaikan, maka bayangan
adalah kuasa Tuhan. Engkau disini
karena bayangan diterima di UNY S2. Daftar diinternet (tercantum di langit)
lalu turun sampai di ruangan ini duduk melingkar yang berupa bayangan dari
kegiatan PMB yang ada di langit. Dunia ini adalah yang engkau pikirkan. Jika
berpikir dunia baik dalam pikiran yang baik, maka baiklah dunia itu. Jika
pikiran buruk, maka buruklah melihat dunia itu. Aku ada di Jakarta dan kamu juga ada di jakarta. Masing-masing
mempunyai penilaian yang berbeda seperti menilai Jakarta. Jika Pak Marsigit
menilai Jakarta 100, maka 100 lah Jakarta itu. Dalam spiritual, semuanya
tergantung dari niatnya atau motifnya. Niat atau motif mengalahkan ilmu atau
pikiran. Niat atau motif di dalam hati. Hati menguasai pikiran. Maka, niat
dalam hati dinaikan menjadi strategi, menjadi motif, tujuan, bersama-sama
menjadi politik. Seperti dalam politik nasional bisa memilih Prabowo atau
Jokowi. Jika ingin memilih Prabowo, maka baiklah Prabowo dan buruklah Jokowi.
Jika ingin memilih Jokowi, maka baiklah Jokowi dan buruklah Prabowo. Dari pada
begitu, jika Pak Marsigit akan menghindari hal semacam itu karena pasti akan
terbelah. Seperti seorang kyai sebaiknya tidak berbicara masalah politik
kecuali berpikir secara parsial. Dalam artinya dunia Jokowi separuh dan Prabowo
separuh. Hidup yang bahagia menurut versi filsafat yaitu kerjakan apa yang kamu
pikirkan, pikirkan apa yang kamu kerjakan, doakan apa yang kamu kerjakan,
doakan apa yang kamu pikirkan, dan doakan apa yang kamu doakan. Doa juga kamu doakan. Dosen yang tidak mengerti jadwal juga bisa mengancam kematian.
Kematian bisa dimana-mana dan sisanya adalah kehidupan.
Pertemuan
ke-4 (Kamis, 4 Oktober 2018)
Inilah hari keempat
perkuliahan Filsafat Ilmu dengan Bapak Marsigit. Sebelum bapak datang kami
sudah membuat posisi tempat duduk seperti pertemuan sebelumnya. Pada pertemuan ini setelah berdoa mahasiswa
langsung diperintahkan untuk
mengeluarkan kertas
seperti
biasa, untuk menjawab tes jawab singkat.
Adapun pertanyaan-pertanyaan dan jawabannya sebagai
berikut: Mengapa terkejut?
karena tidak
harmoni. Mengapa jatuh? jatuh pada. Anda melihat apa?
bayang-bayang atau
bayangan. Anda mendengar
apa?
bayangan. Anda memikirkan apa? bayangan. Anda
menyentuh apa? bayangan.
Anda merasakan apa?
bayangan.
Anda memikirkan
apa? bayangan.
Siapa anda? Tesis. Siapa mereka?
Tesis.
Siapa diriku? Tesis. Apakah
ini? Tesis. Siapa selain
kamu? Anti tesis. Siapa selain diriku? Anti tesis. Apalah
artinya?
Metafisik. Bolehkah?
Semua ga boleh tergantung ruang dan waktunya. Loh? tidak sehat. Semua keheranan,
keterkejutan itu tidak
sehat. Yang sehat
itu smoot. Filsafat itu
smoot. Keterkejutan, bikin
kejutan itu tidak sehat. Distraktif, tidak
harmonis. Wadaw?
tidak
sehat.
Asyik? pengada, karena dia
hasil dari
pada proses.
Orang yang mengatakan asyiikk, itu
berdasarkan
proses yang tarjadi
di depannya aatau
sebelumnya. Wahai? determin. Menjatuhkan
sifat kepada yang lain. Maka sebenar-benarnya
hidup adalah determin. Tak akan ada hidup
jika tidak jatuh pada. Kamu
bisa
lahir ke dunia ini karena bapak mu
jatuh pada ibu mu. Tujuan hidup itu,
pada hakikatnya jatuh
pada atau determin. Maka lahirlah
paham determinisme. Orang yang suka menjatuhkan
sifat. Eh kamu, tukang tarlambat, terlambat baru
sekali dikatakan
tukang tarlambat, jadi saya menjatuhkan
sifat
pada dia. Sudah ku cap,
ku klaim dia sebagai
orang yang tukang tarlambat. Dosa
saya. Saya direktur, ada yang datang minta
tanda tangan. Saya menentukan
nasib orang
lain, jatuh pada, aku tanda tangan
itu,
apa? Keikhlasan
saya itu
jatuh pada bahwa kamu itu
siap mengikuti yudisium, tanda tangan jatuh pada.
Setiap gerakanku itu
adalah
aliran filsafat. Maka
Pak
marsigit itu
filsafatnya itu
adalah metafisik.
Trans. Beyond. Filsafat, Kalo
dosen baru ya, Menurut
sokrates, filsafat
adalah jawab anak-anak.
Mahasiswa kok anak-anak.
Tengok yang lain-lainnya bagaimana perbandingan
perbedaan pembelajaran. Menurut saya,
filsafat adalah diriku
sendiri. Engkau yang sedang
menjelaskan itulah engkau
sedang berfilsafat. Mengapa mesti engkau
sedang menjelaskan
engkau
terkoneksi pak marsigit.
Silahkan
ngomong sendiri, aku memfasilitasi supaya kamu
bisa berfilsafat.
Gituloh maksudnya. Mau ngomong apa saja silahkan. Supaya tidak terancam
kematian. Namun harus memperhatikan
sopan santun terhadap yang lebih diatas kita.
Selanjutnya mahasiswa diberi kesempatan untuk
bertanya, adapun pertanyaan beserta jawaban pak marsigit sebagai berikut.
Pertanyaan pertama “Apa itu
lupa ?”
Terkait dengan masalah ‘lupa’. Lupa merupakan penyesuaian ruang dan waktu. Terjadinya lupa
bila
terputusnya pikiran dan realita. Sebenar-benarnya hidup
adalah di atas pikiran dan realita.
Bahkan mungkin realita adalah bayangan diri kita. Di
dalam pikiran, terdapat banyak logika sampai tak terhingga. Logika merupakan konsep- konsep yang
terhubung dalam diri kita yang mempunyai bayangan. Bayangan tersebut dapat
berasal dari mana pun. Salah satunya dari trans, trans adalah sesuatu yang tidak kita ketahui tetapi berpengaruh terhadap diri kita. Banyak hal yang menjadi contoh
trans, semisal kejadian
ekonomi global, kita
tidak mengetahui apa yang terjadi
sebenarnya tetapi
kita terkena dampaknya.
Pikiran akan terus bekerja seiring berjalannya waktu. Ketika usia sudah lanjut, maka pikiran
akan teringat masa lampau tentang kejadian atau rutinitas yang dialaminya.
Disinilah bukti bahwa logika masih berjalan. Terkadang ada bayang-bayang yang
muncul tetapi sebenarnya itu
tidak nyata atau terkadang salah mengimajinasikan bayangan. Hal tersebut disebabkan
oleh logika yang masih berjalan yang berkaitan
dengan memori. Ada
pertanyaan dari mahasiswa tentang
bagaimana filsafat bekerja dalam kehidupan
? Filsafat
bekerja dalam kehidupan dengan mengerjakan apa yang
kau
pikirkan dan pikirkan apa yang
kau kerjakan. Doakan apa yang kau
pikirkan, doakan apa yang kau
kerjakan.
Pertanyaan
kedua “Apa itu tesis?”
Tesis itu semua yang ada secara filsafat. Semua adalah tesis dan di luar semua yang ada adalah anti tesis. Semisal, saya adalah anti tesis air.
Begitu
juga sebaliknya. Pembahasan
tesis dan antithesis menimbulkan sintesis
Pertanyaan ketiga “bagaimana
manusia yang sebenar-benarnya hidup?”
Manusia yang sebenar-benarnya hidup adalah sesuai ruang dan waktu.
Saya ada dan
hidup di sini sekarang,
namun
tidak di tempat lain ataupun
di waktu
lain
Pertanyaan keempat
“bagaiamana dengan bayangan dalam diri?”
Bayangan
bergantung pada pikiran dan rasa. Seperti halnya pikiran memuat hal yang ada dan mungkin ada.
Begitu juga dengan rasa yang
ada dan mungkin ada. Pikiran tidak akan mampu menjelaskan
semua rasa. Sehebat – hebat kalimatku/ perkataan tidak bisa mengejar pikiran. Sehebat – hebat tulisan
tidak
bisa mengejar
ucapan. Sehebat-hebat tindakan tidak melaksanakan semua tulisan.
Kita tidak bisa mengejar segalanya dengan penuh, apalagi spiritual.
Jangan mencoba untuk bermain pikiran dalam hal spiritual. Tuhan merupakan sebab pertama
dan utama. Kita harus berada pada jalur yang benar agar terhindar dari ancaman kematian.
Yang dimaksud ancaman
kematian adalah kemunafikan
atas tidak mengakui
keTuhanan
Pertemuan ke-5 (Kamis, 18 Oktober
2018)
Inilah hari keempat
perkuliahan Filsafat Ilmu dengan Bapak Marsigit. Sebelum bapak datang kami
sudah membuat posisi tempat duduk seperti pertemuan sebelumnya. Pada pertemuan ini terdapat beberapa
pertanyaan-pertanyaan mahasiswa beserta jawaban dari Pak Marsigit sebagai berikut.
Pertanyaan pertama “Apa itu
sabar?”
Pak
Marsigit menjawab bahwa sabar itu sesuai ruang dan waktunya. Menyesuaikan
terhadap ruang dan waktu. Itu sabar. Jadi menyesuaikan antara penglihatan,
pemikiran, pendengaran, dan tindakan terhadap ruang dan waktunya yang sesuai.
Kemudian juga sifat menerima, toleran. Nah, kita itu punya dua arah, arah
keluar dan arah kedalam. Sifat toleran itu adalah mengurangi suatu sifat
determinis terhadap suatu sifat kepada sifat yang lain. jadi deterministic,
diterministik yaitu menyadari diri sendiri bahwa tidak semata-mata dikarenakan
diriku tetapi diriku itu hanya sebagian dari sifat-sifat yang ada. Bahwa masa
depan saya itu tidak semata-mata karena diriku tetapi karena diri orang lain
dan juga paling penting karena kuasa Tuhan. Jadi kalau sudah dikurangi,
diturunkan egonya karena ego itu potensi menjadi seorang determinis. Determinis
itu jangan dikira sepele ya. Sepele, tidak sepele itu tergantung kita paham
atau tidak. Dari yang kita tidak menyadari sampai kita menyadari. Contoh,
tembok ini. tembok itukan dicat berwarna cream, andai kata bisa usul
dulu-dulunya minta dicat warna biru misalnya, kan dari dulu sampai sekarang
tembok itu berkelu kesa terus sesuai dengan orang yang dulu mengecat tembok itu
sehingga berkarakter cream, karena ditutup oleh cat. Jadi saya mengecet itu
ditermin, menentukan nasib tembok. Jadi jatuhnya sifat cat terhadap tembok.
Kamu memandang saya itu sifat ditermin. Kalau kamu memandang saya dengan
ditermin paling ekstrim yaitu kamu memandang saya sampai saya itu pingsan. Iya
to? Nah, itu determin itu. Jatuhnya sifat pandanganmu kepada saya. Sampai saya
itu pingsan. Maka hidup itu ya ditermin. Tetapi haraplah sesuai dengan ruang dan
waktu. Kan begitu. Jadi misalnya, agar setelah ditermin kita sadari kita
turunkan, kita kemudian mencari referensi kesadaran akan struktunya. Misalnya
saya difitnah orang, dizolimi, diberitakan sebagai yang tidak baik. Padahal itu
tidak cocok dengan saya, atau dikenakan berita hoax. Nah, Kemudian
bermacam-macam mulai dari ditermin saya sampai laporkan ke polisi. Saya punya
cerita, dulu waktu saya punya murah awal itu rumah saya, saya bangun disebuah
pekarangan jauh dekat sawah, kebun-kebun dikelilingi pohon bamboo. Setiap saat
itu kalau ada angin, pohon bambunya itu tumbang kena atap rumah saya, kena
kabel dan putus padahal listrik. Suatu ketika saya ngomong sama yang punya
bamboo. Pak ini bambunya gimana ya? Apa saya beli atau bagaimana? Ternyata
jawabnya walau tidak langsung, tapi intisarinya ternyata seperti duluan mana
bambu atau rumah saya. Jadi, kalau misalnya ini sifat menerima saya, saya punya
sifat menerima sabat, punya rasa sabar dan kemudian mencari referensi
pemikiran. Tetapi manusia itu tidak punya daya ya. Kecuali atas pertolongan
Tuhan. Saya percaya itu. Percaya pertolongan Tuhan itu, percaya saya. Jadi saya
punya pengalaman, terus terang saja begitu. Jadi cari referensi, berikhtiar,
berikhtiar. Pada saat itu, ya saya itu diberitahu ada seorang kiai yang doanya
Makbul. Suatu ketika saya datang ke Kiai itu, ngomong apa adanaya. “Pak Kiai,
saya itu rumah saya selalu ditimpah pohon bambu, gimana solusinya?”. Lalu
diambil air putih didoa-doai sama Pak Kiai. Ya karena sudah masuk ke situ saya
ikut saya perintah pak Kiai, “ini tolong ya, Nak.. ini nanti yang separuh untuk
mandi”. Saya lakukan betul loh.."ketawa-ketiwi".
Tertekan batin, lanjut kata kiai “ terus nanti separuh, masukan ceret atau
ember gitu. Baca doa ini. Terus habis magrib jiprat-jiprat ke pohon bamboo
itu”. Wes, bertahan satu bulan dua bulan. Setelah itu, yang punya bamboo itu
punya anak disuruh bikin rumah di situ, tapi ngk mau. Karena ngk mau, dan
mungkin merasa ngk enak dengan saya karena merasa mendzolimi begitu terus loh
ya. Ngk mau dibikin rumah, akhirnya dijual. Duitnya dipake untuk naik haji.
Terus yang beli itu adalah sekretaris camat, orang kaya. Terus pekarangannya
itu dibangun rumah. Gapuranya dari batu, jadi taman. Dari mana asal-usulnya.
Yang pentingkan Alhamdullilah ikhtiar saya atas pertolongan Tuhan, terkabul.
Tidak ada lagi masalah bamboo. Nah kalau barokah itu dari Tuhan, saya dapat
barokah yang sana juga dapat barokah, gitu loh. Jadi, ya Tuhan barokah hanya
untuk saya saja ya Tuhan. Ya tidak bisa. Barokah itu untuk semuanya. Jadi kalau
mau berdoa, ya Jokowi barokah, Prabowo juga barokah. Kalau doa saja sudah
parsial, menungsa saja bingung, kalau Tuhan kan tidak ada istilah bingung toh?.
Cuma paling-paling marah. Iya toh?. Itu kenyataan yang saya omongkan. Jadi
kalau ke tempat saya, tidak ada lagi pohon bamboo. Ya kalau saya pergi itu,
bagaimana logika kita? Karna itu hanya pasrah, sabar, pasrah, ikhtiar. Iya toh?
Dan bagaimana sekarang kiai, logikanya seperti apa? Begini. Manusia itu kan
punya kelemahan kelebihan. Kelemahan manusia itu tidak bisa mnejangkau
semuanya. Anda itu punya potensi doa, semuanya punya potensi doa. Tapi ketika
anda fokus berdoa, berdoa itu bisa ditingkatkan kualitas ditambah-tambah. Kan
begitu. Doanya baik ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya, lama-lama
mudah-mudahan bisa makbul. Begitu berdoanya kan begitu. Tapi kalau saya gitukan
terus, kapan aku jadi direktur? Kapan aku mengajar? Ngk sempat toh? Aku fokus
dipesantren sana saja, iya toh? Tak bisa kemana-mana antara lain kan begitu.
Maka solusinya, bagaimana caranya, iya toh? Ketika kita bekerja, tetap bisa
tetap dalam berdoa. Tetapi dalam kenyataannya kurang efektif. Undang rapat,
magrib jam 6, bingung toh? Lah magriban kapan? Undang rapat jam 3 pas Ashar.
Ada tamu dari sana, jam sekian. Terus mengurangi kadar doanya. Yang minta
tolong, manusia kan saling minta tolong-menolong. Minta tolong pak Kiai untuk
fokus kesana, sedang fokus ke doa. Setiap hari berdoa, mudah-mudahan doanya
makbul. Gitu logika saya. Bukan kemana-mana. Anda itu semua berpotensi menjadi
ahli doa. Kalau memang fokus ke sistu. Itu yang saya katakana antara sabar dan
menerima, tidak semata-mata urusan manusia loh, dunia itu. Jangan engkau pikir,
hooo, kalau begitu ini aturan hokum loh, melanggar ke sini, tuntut pasal
sekian, nomor sekian, ditahan dua bulan atau satu tahun. Kalau saya di kampong
begitu, sudah hancur-hancuran loh. Sekampung dia itu, saudara semua loh. Saya
kan pendatang. Jangan berani-berani dikampung itu mentang-mentang ngerti hokum
kemudian dibawa ke Jakarta, ngk bisa hidup kayak gitu. Untuk kampung itu harus
masuk NU, iyo toh? Nunut Urip. Sekampung itu Nunut Urip bae, melu. Kalau bisa
ya syukur, kalau ngk bisa ya bijaksana yang penting komunikasi. Dikampung itu
bersama-sama, ditempat saya itu ngk pandang agama kok. Walaupun 100% itu Islam,
Kiai, ada yang kristian di situ satu, tapi karena dia itu bergotong royong,
guyup, ya sudah tidak jadi masalah. Begitu…. Jadi di kampung itu yang penting
kebersamaan, itu loh mba, tadi ya pertanyaanmu toh. Jadi setiap pertanyaan itu,
dunialah. Kalau anda setiap kali bertanya, saya menggambarkan dunia kita, dunia
saya, yang saya alami seperti itu. Ya itu biso tak sebul, tapi mungkin kan
belum begitu makbul doanya loh, karena apa? Tadi naik tingkat ini ngos-ngosan,
atau tergesah-gesah, macam, macam, macam. Andai kata saya sekarang dalam
keadaan berpuasa, tentu lebih makbul lagi. Harapannya begitu. Harapan loh,
ketentuan kan ada di sana, dunia kan harapan, orang hanya berikhtiar. Kalau
kita ngk sabar, kayak gini (gelas aqua menonjol kebawah) aja bisa marah loh.
Apa salahnya dia kita marahi, kalau kita ngk sabar. Kan pertanyaannya tentang
kesabaran. Jadi kalau kamu melihat potensi tidak sabar dan tidak menerima kalau
kamu melihat sekitar itu adalah dari sisi kamu. Apalagi bersifat ditermin,
merasa bisa. Peran saya merasa bisa, dia harus begini, dia harus begitu, dia
harus ikut saya, macam-macam, sebagai kakak kamu harus begini, kalau ngk sesuai
saya marah. Itu sangat deterministic. Determinis itu menentukan orang lain,
menentukan nasib tembok. Begitu.
Pertanyaan kedua “Pandang filsafat dalam
pelecahan agama itu seperti apa?”
Pak Marsigit menjawab bahwa kita
harus selalu berhati-hati, karena hal ini merupakan berasal dari komunitas
korban hoax. Agama jika dalam kajian kita masuk kedalam spiritualitas,
sedangkan pelecahan itu termasuk pemanfaatan bahasa. Bahasa tidak akan mampu
mencerminkan pikiran, maka terkadang pikiran saja tidak terlalu lengkap apalagi
bahasa ada yang disadari, tidak disadari, sepenggal-penggal dan sebagainya. Sehingga
hal tersebut bisa memberikan suatu makna berbeda terhadap apa yang dimaksudkan, maka dari itu akan
menimbulkan suatu pelecehan. Pelecehan agama itu terjadi jika tidak menerapkan
dalil-dalil sesuai dengan ruang dan watunya, maka apalah daya pikiran kita
dalam memikirkan agama, hal tersebut hanya bisa kita rasakan ketika kita
berdoa. Namun ketika berdoa, apakah kita mengerti maksud semua dari doa?
Sebagian doa yang kita hafal itu, ada yang kita tidakpahami artinya. Tidak
paham itu artinya pikiran, tetapi kenapa kita laksanakan sedangkan kita disini
tidak memahaminya. Alasannya karena punya hati yang memilikki keyakinan. Jadi
walaupun aku tidak paham aku memiliki sebuah keyakinan bahwa dengan membaca doa
ini akan diridhoi oleh Tuhan.
Pertanyaan
ketiga “mengapa sulit mencerna tulisan ?”
Pak Marsigit menjawab bahwa caranya
baca baca dan baca, terus-menerus diulangi. Kenapa sulit? karena sebagian
ditulis dengan bahasa analog. Bahasa analog merupakan bahasa metafisik, dimana
metafisik itu ialah maksudnya ada dalam makna sebaliknya. Jadi yang kita lihat,
dengar dan rasakan itu merupakan kualitas pertama, sedangkan metafisik merupakan
kualitas kedua, ketiga, dan seterusnya. Sampai kapan ? tidak akan berakhir, ini
yang dinamakan dengan infinitrigres. Misalnya hati, hati bisa bermakna doa,
spiritual, kuasa tuhan.
Pertanyaan
keempat “Apa di dunia ini ada yang berlaku sebagai bukan benar dan bukan salah?”
Pak Marsigit
menjawab bahwa banyak
sekali, misalnya saya dan kamu itu merupakan bukan benar dan bukan salah. Contoh
A adalah himpunan dari x dimana x ≠ x, apakah x anggota himpunan A? Jawabannya x
merupakan angota dan bukan anggota himpunan A, jadi x itu merupakan benar dan
bukan benar sebagai anggota A. Kenapa? Karena kedua unsur tersebut ada dalam
himpunan A. Begitupun dalam berfilsafat jika kita salah menempatkannya akan
berbahaya. Bahayanya berfilsafat jika tidak memperhatikan ruang dan waktu,
parsial, dan salah paham. Misalnya, bisakah tuhan menciptakan batu yang dangat
besar sedemikian rupa sehingga tuhan sendiri tidak mampu mengangkatnya. Kalau
Tuhan bisa membuat batu berarti Tuhan tidak bisa mengangkat batu itu sedangkan
Tuhan pasti bisa mengangkat batu itu, tetapi kalau Tuhan bisa mengangkat batu
itu berarti Tuhan tidak bisa membuat batu. Lantas dimana salahnya? Itu bukan
salah bukan benar. itu karena negatif dan positif dijadikan satu. Maka,
janganlah coba-coba bermain-main dengan unsurnya syaitan. Janganlah berkompromi
dengan syaitan, jangan coba-coba berteman dengan syaitan, hiduplah yang lurus-lurus
saja, jurusan surga, yang baik-baik saja, caranya berdoalah dalam keadaan
apapun. Doa yang paling tinggi adalah memanggil/menyebut nama Tuhan. Jika satu
saja doamu didengar oleh Tuhan maka kamu masuk kedalam kapsulnya Tuhan. Dan
jika kamu berada didalam kapsulnya Tuhan, maka aman dan selamatlah hidupmu di
dunia dan akhirat. Namun, bermilyar-milyar kamu memanggil nama Tuhan belum
tentu didengar oleh Tuhan, maka agar doa mu didengar didengar oleh Tuhan setiap
agama mempunyai metotodologinya masing-masing. Urusan dunia yang memuat akhirat
dan urusan akhirat yang memuat dunia karena adanya infinitigres (pikiran) dan
jika dinaikkan lagi karena adanya kuasa Tuhan.
Pertanyaan
kelima “Apa itu
cinta, kasih, rindu dan sayang?”
Pak Marsigit menjawab bahwa cinta,
kasih, rindu, benci dan sayang filsafatnya adalah Romantisism. Jadi semua itu
ikonik, tergantung pikiran anda masing-masing. Dunia itu romantis. Ikonik itu
ada yang dekat dan ada yang jauh. ikonik itu dekat dengan determinism.
Pertempuran dan perebutan kekuasaan bisa juga disebut dengan Romantisism, maka
pertempuran antar negara bisa juga isomorfis (setara dengan percintaan). Dari
sisi ikonik romantis, sebenar-benar hidup adalah romantis. Sedangkan dari sisi
ekonik ekonomi, sebenar-benar hidup adalah ekonomi. Dan sebenar-benar dunia
adalah seperti apa yang engkau pikir dan rasakan.
Pertanyaan
keenam “bagaimana
menyeimbangkan dan menyelaraskan antara pikiran, hati dan perbuatan?”
Pak Marsigit menjawab bahwa cara
menyeimbangkannya adalah jalani pikiran anda, wujudkanlah pikiran anda dalam
bentuk tindakan dan pikirkan tindakan anda kemudian doakan pikiran anda dan
doakan tindakan anda. Merentang dan menjalani timeline waktu dari yang kemarin,
sekarang dan yang akan datang. Dan jika dirangkum menjadi satu disebut dengan
Hermenetika. Hermenetika berasal dari kata Hermein yaitu seorang dewa di jaman
Yunani. Dewa Hermein dianggap sebagai dewa yang mampu mendengar bisikan Tuhan
yang kemudian disampaikan kepada masyarakat. Maka Hermein berarti
menterjemahkan dan Hermenetika berarti menterjemahkan dan diterjemahkan. Dalam
bahasa jawa disebut dengan Cokro Manggilingan, Cokro itu bundar dan
Manggilingan itu berjalanan. Jadi, Cokro Manggilingan adalah sesuatu yang
bundar yang berjalan.
Pertanyaan
ketujuh “bagaimana
mengatakan yang mungkin ada?”
Pak Marsigit menjawab bahwa mengatakan
yang mungkin ada yaitu dengan cara Hermenetika, Cokro Manggilingan, dan belajar. dan salah satu contoh dalam
pembelajaran ini yaitu dengan tes jawab singkat, jadi fungsi tes jawab singkat
adalah untuk mengatakan dari yang mungkin ada menjadi ada. Maka kapanpun sadar
tidak sadar kita pasti menemukan fenomena berubahnya yang mungkin ada menjadi
ada. Manusia itu sangat terbatas dan lemah karena manusia hanya mampu melihat
sepotong gambar saja karena tidak ada yang mengabadikan setiap momennya. Yang
mampu mengabadikan setiap detiknya hanya kamera Tuhan.
Pertanyaan
kedelapan “apa itu Apriori?”
Pak Marsigit menjawab bahwa Apriori
itu paham tetapi belum melihat, mendengar atau mungkin belum menyentuh. Contoh:
kamu memahami bahwa kamu memiliki jantung, maka dikatakan pemahamanmu tentang
jantung itu bersifat Apriori. Manusia
bisa ke planet mars walaupun belum penah ke planet mars. Tapi dia sudah
merancang pesawat untuk dapat ke planet Mars, itu dinamakan Apriori. Apriori
banyak manfaat tapi ada juga bahayanya. Misalnya, mencari pasangan hidup dengan
metode Apriori. Paham walaupun belum ketemu. Itu berbahaya karena sudah
mengundang tamu, pengunjung, saksi-saksi, catering komplit, jalan di tutup.
Ditunggu 2 jam, 3 jam, tapi tidak datang-datang mempelai prianya. Satu jam
kemudian di telpon ternyata masih berada di luar pulau. Di telpon orang tuanya
si wanita, “tadi mempelai prianya kemana ya?” lalu dijawab,“mancing kali”.
Histerislah di perempuan, lalu orang tua mempelai perempuan bertanya, “ini
pasti atau tidak?”. Anak menjawab,” ya pasti pak, di pikiran saya dan saya ketemu
dari facebook pak”. Baru bertemu lewat facebook belum jelas orangnya seperti
apa tapi sudah merencanakan mau menikah itu juga Apriori. Contoh: Pak Marsigit
menawarkan akan melamar sang wanita idaman anaknya sebagai calon menantu dengan
syarat dibawa terlebih dahulu ke rumah dan diperkenalkan dengan keluarganya.
Kemudian melihat calon anaknya tersebut secara langsung sehingga paham dan
mengerti bagaimana orangnya. Ini disebut Aposteriori. Aposteriori yaitu
berpikir tingkat rendah. Tikus, kucing, tidak bisa Apriori kecuali kucing
garong yang bisa berpikir dan merencanakan apa yang dia mau. Kucing biasa bisa
berpikir kalau sudah melihat itu dinamakan Apriori. Anak kecil memegang,
melihat, baru memikirkannya bahwa ini segiempat. Anak kecil berpikir Apriori
tidak bisa berpikir Aposteriori. Membayangkan besok di surga ingin membangun
rumah, catnya warna biru, hal ini tidak cukup dengan Apriori tapi harus dengan
iman dan taqwa. Orang cerdas sesuai dengan ruang dan waktu.
Pertanyaan kesembilan “bagaimana
salah dan benar dalam filsafat? Apakah wadah dan isi?”
Pak Marsigit menjawab bahwa bahasa analog, wadah dan isi. Jika wadahnya
suami, maka isinya istri. Jika wadahnya kakak, maka isinya adik. Jika wadahnya
wadah maka isinya isi. Jika wadahnya ruang maka isinya waktu. Jika wadahnya
waktu maka isinya ruang. Kenapa isi isinya wadah? Kaena infinitrigres terus menerus. Jika wadahnya langit maka
isinya bumi. Jika wadahnya dompet maka isinya duit.
Pertanyaan kesepuluh “bagaimana
agar bisa terus konsisten?”
Pak Marsigit menjawab bahwa tidak pernah menginjak bumi supaya bisa
konsisten. Sekali menginjak bumi maka tidak konsisten. Karena bumi tidak
konsisten. Hidup ini tidak konsisten, kontradiktif. Berlaku A tidak sama dengan
A, Karena terikat pada ruang dan waktu. Jika ingin konsisten terus maka
tinggalkan saja bumi. Orang yang sudah meninggal sudah konsisten amal dan
perbuatannya sudah tetap. Yang masih bisa berubah-ubah ketika masih di bumi.
Pertanyaan kesebelas “Benar dan
salah”
Pak Marsigit menjawab bahwa benar dan salahnya pikiran itu konsiten atau
tidak konsisten. Benar dan salah kenyataan itu adalah cocok dan tidak cocok. Cocok dan tidak cocok yaitu korespondensi.
Konsisten sama dengan koherensi.
Pertanyaan keduabelas “penyesalan?”
Pak Marsigit menjawab bahwa penyesalan itu termasuk romantis. Tapi dalam
pikiran yang dinaikkan dalam spiritualitas, penyesalan yaitu mohon mpun atas
segala dosa.
Pertanyaan ketigabelas “Apakah bapak
punya gengsi?”
Pak Marsigit menjawab bahwa “ya setiap saat punya gengsi saya”. Gengsi
terhadap yang tidak sesuai dengan ruang dan waktu. Kita harus gengsi sama
setan. Tumakninah, istikomah, dan amanah terhadap ruang dan waktu. Banyaknya
pengalamn hidup itu penting walaupun ada yang memalukan. Misalnya setelah
sholat subuh malah sholat lagi, sholat jenazah menggunakan sujud sampai
jamaahnya pada pergi, tentu hal tersebut membuat malu atau gengsi karena tidak
sesuai dengan ruang dan waktu. Gengsi ada hubungannya dengan “menerima” kalau
memang bener ya menerima. Pengalaman naik lift dari lantai 3 menuju lantai 7,
mereka tahu kalau sudah penuh, tapi Pak Marsigit tetap saja masuk. Akhirnya
tidak bisa. Walaupun berstatus sebagai direktur tidak bisa meminta yang lainnya
untuk keluar begitu saja dan akhirnya Pak Marsigit sendiri yang keluar. Tidak
boleh gengsi, tapi harus diterima dengan ikhlas. Akhirnya memutuskan untuk naik
tangga. Dengan keikhlasan dunia dibalik menjadi Alhamdulillah.
Semoga Pertemuan-pertemuan ini dapat membuat dunia kita menjadi lebih baik. Aamiin.