Rabu, 02 Januari 2019

Nuansa FIlsafat dalam Pendidikan Matematika

NUANSA FILSAFAT DALAM PENDIDIKAN MATEMATIKA

 

Anggoro Yugo Pamungkas1, marsigit2

1, 2 Pendidikan Matematika, Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta

email: anggoroyugopamungkas@gmail.com1, marsigitina@gmail.com2

 


ABSTRAK

Ilmu pengetahuan dan teknologi telah banyak mengalami perkembangan. Salah satu ilmu yang berguna dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yaitu matematika. Penguasaan matematika akan lebih baik apabila di dukung dengan pendidikan yang baik. Dengan pendidikan matematika siswa akan dapat menguasai dan memperoleh pemecahan masalah dalam kehidupan sehari-hari serta dapat meningkatkan kreativitas, ketelitian, kemampuan penalaran dan lain-lainnya. Salah satu cara agar orang paham dengan pendidikan matematika yaitu dengan memahami filsafat dalam pendidikan matematika. filsafat dalam pendidikan matematika, dapat membuat orang lebih berpikir logis dan memiliki pemikiran yang berbeda dari lainnya sehingga siapapun  yang benar-benar belajar bisa memecahkan permasalahannya sendiri.

 

Kata kunci : Matematika, Pendidikan, Filsafat, perkembangan, ilmu

 

PENDAHULUAN

Ilmu pengetahuan dan teknologi telah banyak mengalami perkembangan di dunia ini. Manusia sangat memerlukan informasi dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut dalam memenuhi kepuasan dan kebutuhan hidupnya yang dapat memberikan pengaruh positif maupun negatif.

Salah satu ilmu yang berguna dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yaitu matematika. Matematika adalah sebuah cabang dari ilmu pengetahuan yang telah muncul dari berabad-abad tahun yang lalu. Matematika dikatakan bermanfaat, karena matematika sangat berguna dalam membantu penguasaan ilmu-ilmu yang lain, baik dari segi pengembangan ilmu yang bersangkutan, maupun dalam terapannya pada aspek kehidupan sehari-hari.

Penguasaan matematika akan lebih baik apabila di dukung dengan pendidikan yang baik pula. Pendidikan matematika adalah salah satu yang mempunyai peranan penting dalam mewujudkan penguasaan matematika dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Matematika merupakan bidang studi yang tidak lupa dipelajari dari SD hingga SLTA bahkan juga sampai perguruan tinggi.

Dengan demikian, pendidikan matematika sangatlah penting dalam menguasai ilmu matematika, sehingga dengan pendidikan matematika siswa akan dapat menguasai dan memperoleh pemecahan masalah dalam kehidupan sehari-hari serta dapat meningkatkan kreativitas, ketelitian, kemampuan penalaran dan lain-lainnya.

Namun pada kenyataannya pendidikan matematika cenderung belum sesuai harapan. Salah satu faktor yang menyebabkan matematika kurang disukai setiap orang yaitu kurang pahamnya dalam memaknai matematika tersebut. Salah satu cara agar orang paham dengan pendidikan matematika yaitu dengan memahami apa itu filsafat pendidikan matematika.

Filsafat adalah pandangan hidup yang dimiliki seseorang atau sekelompok orang mcngenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang secara sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu dari segi yang luas dan menyeluruh dalam segala hubungan.  Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata filsafat mengartikan pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab asal dan hukumnya. Sehingga filsafat pendidikan matematika adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok yang dilakukan secara sadar dan dewasa untuk memikirkan dan menyelidiki hakikat segala yang ada.

Banyak orang menganggap bahwa filsafat itu tidak penting untuk dipelajari. Hal itu disebabkan karena kurangnya pengetahuan dan informasi atau bisa jadi juga karena doktrin agama tertentu yang melarang umatnya untuk mempelajari filsafat dikarenakan kekhawatiran tertentu. Selain itu, di Indonesia pengamalan filsafat dalam ilmu, khususnya matematika, masih sangat amat jarang, bahkan tidak ada. terlebih lagi setelah menjamurnya pusat bimbingan belajar yang mengajarkan rumus-rumus cepat dan praktis tanpa memeberikan dasar pemahaman yang cukup memadai, dan akhirnya ilmu hanya dipandang sebagai sesuatu yang pragmatis.

Padahal dengan mengamalkan filsafat dalam matematika, dapat membuat orang lebih berpikir logis dan memiliki pemikiran yang berbeda dari lainnya sehingga siapapun  yang benar-benar belajar bisa memecahkan permasalahannya sendiri. Oleh karena itu, dibuatlah makalah yang membahas tentang filsafat ilmu pendidikan matematika yang tujuannya orang yang membaca dapat berpikir logis dan kreatif dalam ilmu pendidikan matematika, dengan judul makalah ini yaitu nuansa filsafat dalam pendidikan matematika.

 

PEMBAHASAN

1.     Persoalan dalam Pendidikan Matematika

Persoalan dalam pendidikan di Indonesia, bukanlah menjadi rahasia umum lagi, bahkan dunia telah membuktikan rendahnya pendidikan indonesia. Salah satu yang menjadi persoalan yaitu dalam pendidikan matematika. Menurut laporan PISA 2015, program yang mengurutkan kualitas sistem pendidikan di 72 negara, Indonesia menduduki peringkat 62. Seperti yang kita ketahui bahwa banyak siswa yang tidak menyukai matematika bahkan kita sendiri mungkin pernah atau masih tidak menyukai matematika.

Matematika merupakan ilmu pengetahuan yang bersifat abstrak. Karena konsep-konsep dalam matematika sesuatu yang abstrak, maka tak heran apabila guru guru mengalami kesulitan dalam menanamkan konsep matematika ke siswa.

Namun, agar guru dapat membantu siswa memahami konsep matematika yang bersifat abstrak maka pembelajaran matematika sebaiknya melibatkan interaksi yang baik dengan lingkungan fisik atau lingkungan sosial. Siswa belajar matematika lewat interaksi. Interaksi ini akan mengarahkan proses abstraksi yang diperoleh siswa dalam matematika.

2.     Karakteristik Pendidikan Matematika

Berikut ini akan di ungkapkan tentang karakteristik pendidikan matematika, namun tidak terlepas dari karakteristik matematika itu sendiri. Adapun karakteristik pendidikan matematika menurut (Anitah & Susanah, 2008) adalah sebagai berikut.

a.     Memiliki objek kajian konkret dan abstrak

Seorang guru matematika harus berusaha untuk “mengurangi” sifat keabstrakan objek matematika sehingga memudahkan siswa dalam menangkap pelajaran matematika di sekolah. Dengan demikian, seorang guru matematika dalam menerangkan fakta, konsep, skill atau keterampilan, dan prinsip harus menyesuaikan perkembangan penalaran siswa agar terlihat konkret. Di jenjang sekolah dasar tingkat kekonkretan harus lebih banyak dibanding jenjang sekolah yang lebih tinggi. Semakin tinggi jenjang sekolahnya semakin tinggi tingkat keabstrakannya. Mungkin dengan mengaitkan materi yang akan disampaikan dengan realita di sekitar siswa atau disesuaikan dengan pemakaiannya. Jadi, penyajiannya sering kali tidak langsung berupa materi-materi matematika. Hal tersebut akan lebih terasa lagi pada “matematika informal” yang biasanya diterapkan di jenjang Taman Kanak-kanak (TK) dengan bentuk permainan atau nyanyian.

b.     Pola pikirnya induktif dan deduktif

Dalam pembelajaran matematika pola pikir deduktif tersebut tetap penting dan merupakan salah satu tujuan yang bersifat formal, yang memberi tekanan kepada penataan nalar. Meskipun pola pikir deduktif sangat penting dalam matematika, namun dalam pembelajaran matematika di sekolah terutama pada jenjang sekolah dasar (SD) atau sekolah menengah pertama (SMP) masih memerlukan pola pikir induktif. Ini berarti dalam menyajikan pelajaran matematika di SD atau di SMP masih memerlukan contoh-contoh bahkan jika memungkinkan berupa benda konkret. Dari contoh-contoh tersebut ditunjukkan hal-hal atau sifat-sifat khusus selanjutnya menuju ke hal-hal yang bersifat umum. Simpulan tersebut dapat berupa definisi atau teorema yang diangkat berdasarkan contoh-contoh tersebut.

Misal untuk membuktikan jumlah ukuran semua sudut dalam segitiga adalah 1800. Jika di jenjang SMP untuk membuktikan teorema tersebut secara deduktif masih kesulitan maka pembuktiannya dapat dimulai dengan pembuktian secara induktif. Misal siswa disuruh menggambar segitiga dari kertas dan disuruh menggunting daerah sudut-sudutnya kemudian ketiga sudut tersebut ditempelkan sedemikian hingga membentuk sudut lurus. Dari definisi sudut lurus siswa dapat memahami bahwa ketiga sudut tersebut jumlah ukurannya 1800. Selanjutnya, dengan menggunakan konsep kesejajaran maka teorema tersebut dapat dibuktikan dengan pola pikir deduktif.

c.     Kebenaran konsistensi dan korelasional

Dalam pembelajaran matematika konsistensi juga berlaku dan sangat diperlukan. Konsistensi juga berlaku dalam hal istilah atau nama objek matematika yang digunakan. Tidak dibenarkan adanya kontradiksi baik dalam hal sifat, konsep, teorema atau istilah atau nama yang digunakan. Misal, teorema yang menyatakan bahwa jumlah ukuran ketiga sudut dalam segitiga adalah 1800 berlaku dalam sistem geometri di jenjang sekolah SD sampai dengan SMA, tetapi teorema yang menyatakan bahwa jumlah ukuran ketiga sudut dalam segitiga kurang atau lebih dari 1800 dalam struktur geometri yang berbeda (non-Euclidean Geometri) yang belum diajarkan.

d.     Bertumpu pada kesepakatan

Seperti halnya dalam matematika sebagai ilmu dalam pembelajaran matematika kesepakatan juga harus dipatuhi. Kesepakatan juga berlaku dalam hal istilah atau nama objek matematika yang digunakan, dan juga dalam hal definisi dan sebagainya. Coba renungkan Anda menulis 1, apa artinya? Berarti “satu” bukan? Itu salah satu contoh sederhana tentang kesepakatan. Contoh kesepakatan lain dalam geometri, misalnya definisi “jajargenjang adalah segi empat yang memiliki dua pasang sisi berhadapan sejajar”. Jika kalimat tersebut dipilih sebagai definisi maka kalimat lainnya akan dipakai sebagai suatu teorema. Misalnya “segi empat yang sisi berhadapannya sama panjang adalah jajargenjang”

e.     Memiliki simbol kosong dari arti dan juga berarti (berarti sudah masuk dalam semesta tertentu)

Dalam pembelajaran matematika simbol matematika yang digunakan telah dikenalkan sejak SD. Namun, penggunaan simbol itu disesuaikan dengan tingkat kognitif siswa. Misal penggunaan kata variabel untuk anak SD masih digunakan  atau o atau … (titik-titik), semakin tinggi tingkatnya dan jika telah memahami baru menggunakan huruf misal m, n, dan umumnya x , y, z, dan sebagainya. Di jenjang SD, SMP, simbol-simbol , o, m, n dan seterusnya diberi arti bilangan. Jadi, 5 +  = 17 simbol  berarti bilangan yang harus ditulis dalam kotak itu.

f.      Taat kepada semesta, bahkan juga dipakai untuk membedakan tingkat sekolah

Sebagai akibat dipilihnya unsur atau elemen matematika untuk matematika sekolah dengan memperhatikan aspek kependidikan, dapat terjadi “penyederhanaan” dari konsep matematika yang kompleks. Semesta pembicaraan dalam pembelajaran matematika tetap diperlukan, namun mungkin sekali dipersempit. Selanjutnya semakin meningkat usia siswa, yang berarti semakin meningkat juga tahap perkembangannya maka semesta pembicaraannya berangsur diperluas lagi. Contoh:

1)    Di SD kelas 1, masih dibatasi, misal dikenalkan bilangan sampai 99. Ini juga berarti semesta siswa SD kelas 1 masih dibatasi. Jika naik kelas maka semestanya diperluas.

2)    Di SMP dibedakan antara layang-layang dan bukan layang-layang semestanya adalah bangun konveks

3)    Misal dari SD hingga SMA hanya dikenalkan bilangan prima yang positif. Bahkan tidak mustahil ada mahasiswa S1 yang tidak dikenalkan dengan bilangan prima negatif. Ini berarti semesta bilangan prima masih dibatasi.

3.     Perkembangan Pendidikan Matematika

Perkembangan pendidikan matematika tidak lepas dari berkembang kurikulum dari masa ke masa. Berikut akan dijelaskan perkembangan pendidikan matematika di Indonesia. Adapun perkembangan pendidikan matematika di Indonesia yang diambil dari web (Meliana, 2015) adalah sebagai berikut.

a.     Matematika tradisional (Ilmu Pasti)

Setelah Indonesia terlepas dari penjajahan kolonial, pemerintah berbenah diri menyusun program pendidikan. Matematika diletakkan sebagai salah satu mata pelajaran wajib. Saat itu pembelajaran matematika lebih ditekankan pada ilmu hitung dan cara berhitung. Urutan-urutan materi seolah-olah telah menjadi konsensus masyarakat. Karena seolah-olah sudah menjadi konsensus maka ketika urutan dirubah sedikit saja protes dan penentangan dari masyarakat begitu kuat. Untuk pertama kali yang diperkenalkan kepada siswa adalah bilangan asli dan membilang, kemudian penjumlahan dengan jumlah kurang dari sepuluh, pengurangan yang selisihnya positif dan lain sebagainya.

Kekhasan lain dari pembelajaran matematika tradisional adalah bahwa pembelajaran lebih menekankan hafalan dari pada pengertian, menekankan bagaimana sesuatu itu dihitung bukan mengapa sesuatu itu dihitungnya demikian, lebih mengutamakan kepada melatih otak bukan kegunaan, bahasa/istilah dan simbol yang digunakan tidak jelas, urutan operasi harus diterima tanpa alasan, dan seterusnya.

Urutan operasi hitung pada era pembelajaran matematika tradisional adalah kali, bagi, tambah dan kurang. Maksudnya bila ada soal dengan menggunakan operasi hitung maka perkalian harus didahulukan dimanapun letaknya baru kemudian pembagian, penjumlahan dan pengurangan. Urutan operasi ini mulai tahun 1974 sudah tidak dipandang kuat lagi banyak kasus yang dapat digunakan untuk menunjukkan kelemahan urutan tersebut.

Contoh: 12 : 3 jawabannya adalah 4, dengan tanpa memberi tanda kurung, soal di atas ekuivalen dengan 9 + 3 : 3, berdasar urutan operasi yaitu bagi dulu baru jumlah dan hasilnya adalah 10. Perbedaan hasil inilah yang menjadi alasan bahwa urutan tersebut kurang kuat.

Sementara itu cabang matematka yang diberikan di sekolah menengah pertama adalah aljabar dan Ilmu ukur (geometri) bidang. Geometri ini diajarkan secara terpisah dengan geometri ruang selama tiga tahun. Sedangkan yang diberikan di sekolah menengah atas adalah aljabar, geometri ruang, goneometri, geometri lukis, dan sedikit geometri analitik bidang. Geometri ruang tidak diajarkan serempak dengan geometri ruang, geomerti lukis adalah ilmu yang kurang banyak diperlukan dalam kehidupan sehingga menjadi abstrak dikalangan siswa.

b.     Pembelajaran Matematika Modern

Pengajaran matematika modern resminya dimulai setelah adanya kurikulum 1975. Model pembelajaran matematika modern ini muncul karenaadanya kemajuan teknologi. Di Amerika Serikat perasaan adanya kekurangan orang-orang yang mampu menangani senjata, rudal dan roket sangat sedikit, mendorong munculnya pembaharuan pembelajaran matematika. Selain itu penemuan-penemuan teori belajar mengajar oleh J. Piaget, W Brownell, J.P Guilford, J.S Bruner, Z.P Dienes, D.Ausubel, R.M Gagne dan lain-lain semakin memperkuat arus perubahan model pembelajaran matematika.

W. Brownell mengemukakan bahwa belajar matematika harus merupakan belajar bermakna dan berpengertian. Teori ini sesuai dengan teori Gestalt yang muncul sekitar tahun 1930, dimana Gestalt menengaskan bahwa latihan hafal atau yang sering disebut drill adalah sangat penting dalam pengajaran namun diterapkan setelah tertanam pengertian pada siswa.

Dua hal tersebut di atas mempengaruhi perkembangan pembelajaran matematika di Indonesia. Berbagai kelemahan seolah nampak jelas, pembelajaran kurang menekankan pada pengertian, kurang adanya kontinuitas, kurang merangsang anak untuk ingin tahu, dan lain sebagainya. Ditambah lagi masyarakat dihadapkan pada kemajuan teknologi. Akhirnya Pemerintah merancang program pembelajaran yang dapat menutupi kelemanahn-kelemahan tersebut. Munculah kurikulum 1975 dimana matematika saat itu mempunyai karakteristik sebagai berikut:

1)    Memuat topik-topik dan pendekatan baru. Topik-topik baru yang muncul adalah himpunan, statistik dan probabilitas, relasi, sistem numerasi kuno, penulisan lambang bilangan non desimal.

2)    Pembelajaran lebih menekankan pembelajaran bermakna dan berpengertian dari pada hafalan dan ketrampilan berhitung.

3)    Program matematika sekolah dasar dan sekolah menengah lebih kontinyu.

4)    Pengenalan penekanan pembelajaran pada struktur.

5)    Programnya dapat melayani kelompok anak-anak yang kemampuannya hetrogen.

6)    Menggunakan bahasa yang lebih tepat.

7)    Pusat pengajaran pada murid tidak pada guruMetode pembelajaran menggunakan meode menemukan, memecahkan masalah dan teknik diskusi.

8)    Pengajaran matematika lebih hidup dan menarik.

c.     Kurikulum Matematika 1984

Pembelajaran matematika pada era 1980-an merupakan gerakan revolusi matematika kedua, walaupun tidak sedahsyat pada revolusi matematika pertama atau matematika modern. Revolusi ini diawali oleh kekhawatiran negara maju yang akan disusul oleh negara-negara terbelakang saat itu, seperti Jerman barat, Jepang, Korea, dan Taiwan. Pengajaran matematika ditandai oleh beberapa hal yaitu adanya kemajuan teknologi muthakir seperti kalkulator dan komputer.

Perkembangan matematika di luar negeri tersebut berpengaruh terhadap matematika dalam negeri. Di dalam negeri, tahun 1984 pemerintah melaunching kurikulum baru, yaitu kurikulum tahun 1984. Alasan dalam menerapkan kurikulum baru tersebut antara lain, adanya sarat materi, perbedaan kemajuan pendidikan antar daerah dari segi teknologi, adanya perbedaan kesenjangan antara program kurikulum di satu pihak dan pelaksana sekolah serta kebutuhan lapangan dipihak lain, belum sesuainya materi kurikulum dengan tarap kemampuan anak didik. Dan, CBSA (cara belajar siswa aktif) menjadi karakter yang begitu melekat erat dalam kurikulum tersebut.

Dalam kurikulum ini siswa di sekolah dasar diberi materi aritmatika sosial, sementara untuk siswa sekolah menengah atas diberi materi baru seperti komputer. Hal lain yang menjadi perhatian dalam kurikulum tersebut, adalah bahan bahan baru yang sesuai dengan tuntutan di lapangan, permainan geometri yang mampu mengaktifkan siswa juga disajikan dalam kurikulum ini.

Sementara itu langkah-langkah agar pelaksanaan kurikulum berhasil adalah melakukan hal-hal sebagai berikut:

1)    Guru supaya meningkatkan profesinalisme

2)    Dalam buku paket harus dimasukkan kegiatan yang menggunakan kalkulator dan computer

3)    Sinkronisasi dan kesinambungan pembelajaran dari sekolah dasar dan sekolah lanjutan

4)    Pengevaluasian hasil pembelajaran

5)    Prinsip CBSA di pelihara terus

d.     Kurikulum Tahun 1994

Kegiatan matematika internasional begitu marak di tahun 90-an. walaupun hal itu bukan hal yang baru sebab tahun tahun sebelumnya kegiatan internasional seperti olimpiade matematika sudah berjalan beberapa kali. Sampai tahun 1977 saja sudah 19 kali diselenggarakan olimpiade matematika internasional. Saat itu Yugoslavia menjadi tuan rumah pelaksanaan olimpiade, dan yang berhasil mendulang medali adalah Amerika, Rusia, Inggris, Hongaria, dan Belanda.

Indonesia tidak ketinggalan dalam pentas olimpiade tersebut namun jarang mendulang medali. (tahun 2004 dalam olimpiade matematika di Athena, lewat perwakilan siswa SMU 1 Surakarta atas nama Nolang Hanani merebut medali). Keprihatinan tersebut diperparah dengan kondisi lulusan yang kurang siap dalam kancah kehidupan. Para lulusan kurang mampu dalam menyelsaikan problem-probelmke hidupan dan lain sebagainya. Dengan dasar inilah pemerintah berusaha mengembangkan kurikulum baru yang mampu membekali siswa berkaitan dengan problem-solving kehidupan. Lahirlah kurikulum tahun 1994.

Dalam kurikulum tahun 1994, pembelajaran matematika mempunyai karakter yang khas, struktur materi sudah disesuaikan dengan psikologi perkembangan anak, materi keahlian seperti komputer semakin mendalam, model-model pembelajaran matematika kehidupan disajikan dalam berbagai pokok bahasan. Intinya pembelajaran matematika saat itu mengedepankan tekstual materi namun tidak melupakan hal-hal kontekstual yang berkaitan dengan materi. Soal cerita menjadi sajian menarik disetiap akhir pokok bahasan, hal ini diberikan dengan pertimbangan agar siswa mampu menyelesaikan permasalahan kehidupan yang dihadapi sehari-hari.

e.     Kurikulum tahun 2004

Setelah beberapa dekade dan secara khusus sepuluh tahun berjalan dengan kurikulum 1994, pola-pola lama bahwa guru menerangkan konsep, guru memberikan contoh, murid secara individual mengerjakan latihan, murid mengerjakan soal-soal pekerjaan rumah hanya kegiatan rutin saja disekolah, sementara bagaimana keragaman pikiran siswa dan kemampuan siswa dalam mengungkapkan gagasannya kurang menjadi perhatian.

Para siswa umumnya belajar tanpa ada kesempatan untuk mengkomunikasikan gagasannya, mengembangkan kreatifitasnya. Jawaban soal seolah membatasi kreatifitas dari siswa karena jawaban benar seolah-lah hanya otoritas dari seorang guru. Pembelajaran seperti paparan di atas akhirnya hanya menghasilkan lulusan yang kurang terampil secara matematis dalam menyelesaikan persoalah-persoalan seharai-hari. Bahkan pembelajaran model di atas semakin memunculkan kesan kuat bahwa matematika pelajaran yang sulit dan tidak menarik.

Tahun 2004 pemerintah melaunching kurikulum baru dengan nama kurikulum berbasis kompetesi. Secara khusus model pembelajaran matematika dalam kurikulum tersebut mempunyai tujuan antara lain:

                    1)       Melatih cara berfikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, misalnya melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, eksperimen, menunjukkankesamaan, perbedaan, konsistensi dan inkonsistensi.

                    2)       Mengembangkan aktifitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan penemuan dengan mengembangkan divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta mencoba-coba.

                    3)       Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah

Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan, catatan, grafik, diagram, dalam menjelaskan gagasan.

f.      Kurikulum 2006

Pengembangan Kurikulum 2006 atau yang lebih dikenal dengan KTSP memperhatikan pilar-pilar pendidikan yang berkembang di abad ini:

1)    Belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,

2)    Belajar untuk memahami dan menghayati,

3)    Belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif,

4)    Belajar untuk hidup bersama dan berguna untuk orang lain, dan

5)    Belajar untuk membangun dan menemukan jati diri melalui proses belajar yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (BSNP, 2006: 2)

Standar kompetensi dan kompetensi dasar matematika dalam dokumen ini disusun sebagai landasan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan tersebut di atas. Selain itu dimaksudkan pula untuk mengembangkan kemampuan menggunakan matematika dalam pemecahan masalah dan mengkomunikasikan ide atau gagasan dengan menggunakan simbol, tabel, diagram, dan media lain.

Pendekatan pemecahan masalah merupakan fokus dalam pembelajaran matematika yang mencakup masalah tertutup dengan solusi tunggal, masalah terbuka dengan solusi tidak tunggal, dan masalah dengan berbagai cara penyelesaian. Untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah perlu dikembangkan keterampilan memahami masalah, membuat model matematika, menyelesaikan masalah, dan menafsirkan solusinya.

Dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). Dengan mengajukan masalah kontekstual, peserta didik secara bertahapdibimbing untuk menguasai konsep matematika. Untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran, sekolah diharapkan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi seperti komputer, alat peraga, atau media lainnya. Selain itu, perlu ada pembahasan mengenai bagaimana matematika banyak diterapkan dalam teknologi informasi sebagai perluasan pengetahuan peserta didik.

Berdasarkan Permendiknas No. 22 Tahun 2006, Mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan berikut:

1)    Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah.

2)    Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataanmatematika

3)    Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.

4)    Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah.

5)    Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah

g.     Kurikulum 2013

Pengembangan kurikulum 2013 bersifat sistemik, fleksibel, dan kontekstual. Dalam arti bahwa: pertama, kurikulum sebagai salah satu komponen pendidikan akan saling tergantung dan saling mempengaruhi terhadap komponen yang lainnya; kedua, kurikulum sebagai salah satu komponen pendidikan dapat berubah dan/atau dirubah secara mudah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan; dan ketiga, kurikulum sebagai salah satu komponen pendidikan harus dapat menjadi instrumen penghubung antara konsep dan kenyataan.

Kurikulum sebagai salah satu komponen pendidikan memiliki keterkaitan yang signifikan dengan upaya peningkatan mutu pendidikan yang terdiri atas indikator input, proses, dan outcomes. Rangkaian logis hubungan antara kurikulum dan pencapaian mutu pendidikan adalah: (1) adanya input yang memiliki kesiapan mental untuk mempelajari berbagai kompetensi yang terdapat dalam kurikulum; (2) adanya proses pembelajaran yang didukung dengan kurikulum, guru, buku pelajaran, dan peran orang tua; dan (3) adanya outcomes yang berkualitas dan memenuhi standar sebagai produk dari rangkaian proses sebelumnya.

Pendidikan matematika dapat diartikan sebagai proses perubahan baik kognitif, afektif, dan kognitif kearah kedewasaan sesuai dengan kebenaran logika. Ada beberapa karakteristik matematika, antara lain:

1)    Objek yang dipelajari abstrak

Sebagian besar yang dipelajari dalam matematika adalah angka atau bilangan yang secara nyata tidak ada atau merupakan hasil pemikiran otak manusia.

2)    Kebenaranya berdasarkan logika.

Kebenaran dalam matematika adalah kebenaran secara logika bukan empiris. Artinya kebenarannya tidak dapat dibuktikan melalui eksperimen seperti dalam ilmu fisika atau biologi. Contohnya nilai √-2 tidak dapat dibuktikan dengan kalkulator, tetapi secara logika ada jawabannya sehingga bilangan tersebut dinamakan bilangan imajiner (khayal).

3)    Pembelajarannya secara bertingkat dan kontinu.

Pemberian atau penyajian materi matematika disesuaikan dengan tingkatan pendidikan dan dilakukan secara terus-menerus. Artinya dalam mempelajari matematika harus secara berulang melalui latihan-latihan soal.

4)    Ada keterkaitan antara materi yang satu dengan yang lainnya.

Materi yang akan dipelajari harus memenuhi atau menguasai materi sebelumnya. Contohnya ketika akan mempelajari tentang volume atau isi suatu bangun ruang maka harus menguasai tentang materi luas dan keliling bidang datar.

5)    Menggunakan bahasa simbol.

Dalam matematika penyampaian materi menggunakan simbol-simbol yang telah disepakati dan dipahami secara umum. Misalnya penjumlahan menggunakan simbol “+” sehingga tidak terjadi dualisme jawaban.

6)    Diaplikasikan dibidang ilmu lain.

Materi matematika banyak digunakan atau diaplikasikan dalam bidang ilmu lain. Misalnya materi fungsi digunakan dalam ilmu ekonomi untuk mempelajari fungsi permintan dan fungsi penawaran.

Berdasarkan karakteristik tersebut maka matematika merupakan suatu ilmu yang penting dalam kehidupan bahkan dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Hal ini yang harus ditekankan kepada siswa sebelum mempelajari matematika dan dipahami oleh guru.

Perkembangan matematika, bermula dari kepekaan serta kesadaran ataupunkepedulianmanusia untuk memahami fenomena-fenomena empiris yang ditemui dalam kehidupan keseharian. Bermunculanlah konsep-konsep dasar yang selanjutnya mengalamiperluasan (ekspansi), pembenaran (justification), pembenahan serta generalisasi atau formalisasi.

4.     Unsur-unsur dalam pendidikan matematika

Unsur-unsur dalam pendidikan matematika tidak jauh berbeda dari unsuk-unsur dalam pendidikan. Jadi, berikut adalah unsur-unsur yang terdapat dalam pendidikan matematika yang diambil dari web (Azharro et al., n.d.).

a.     Peserta Didik 

Peserta didik berstatus sebagai subjek didik karena peserta didik adalah subjek atau pribadi yang otonom, yang ingin diakui keberadaannya. Peserta didik memiliki ciri – ciri yang perlu dipahami pendidik:

1)    Individu yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas,

2)    Individu yang sedang berkembang,

3)    Individu yang membutuhkan bimbingan individu dan perlakuan manusiawi

4)    Individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri

b.     Pendidik 

Pendidik ialah orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan dengan sasaran peserta didik. Pendidik harus memiliki kewibawaan (kekuasaan batin mendidik) dan menghindari penggunaan kekuasaan lahir (kekuasaan yang semata-mata didasarkan kepada unsur wewenang jabatan). Kewibawaan dimiliki oleh mereka yang sudah dewasa, yang dimaksud adalah kedewasaan rohani yang ditopang kedewasaan jasmani. Kedewasaan jasmani tercapai bila individu telah mencapai puncak perkembangan jasmani yang optimal. Kedewasaan rohani tercapai bila individu telah memiliki cita-cita hidup dan pandangan hidup yang tetap.

c.     Interaksi Edukatif antara Peserta Didik dengan Pendidik 

Interaksi edukatif pada dasarnya adalah komunikasi timbal balik antar peserta didik dengan pendidik yang terarah kepada tujuan pendidikan.

d.     Materi / Isi Pendidikan

Dalam sistem pendidikan persekolahan, meteri telah diramu dalam kurikulum yang disajikan sebagai sarana pencapaian tujuan. Materi ini meliputi materi inti maupun muatan lokal. Materi inti bersifat nasional yang mengandung misi pengendalian dan persatuan bangsa. Muatan lokal misinya adalah mengembangkan kebhinnekaan kekayaan budaya sesuai dengan kondisi lingkungan.

e.     Konteks Yang Mempengaruhi Pendidikan

1)    Alat dan Metode

Alat dan metode diartikan sebagai segala sesuatu yang dilakukan ataupun diadakan dengan sengaja untuk mencapai tujuan pendidikan. Alat pendidikan dibedakan menjadi dua, yaitu:

a)     Yang bersifat Preventif, yaitu mencegah terjadinya hal – hal yang tidak dikehendaki misalnya larangan, pembatasan, peringatan bahkan juga hukuman.

b)    Yang bersifat Kuratif, yaitu memperbaiki, misalnya ajakan, contoh, nasihat, dorongan, pemberian kepercayaan, saran, penjelasan, bahkan juga hukuman.

2)    Lingkungan Pendidikan

Biasanya disebut dengan tri pusat pendidikan: keluarga, sekolah, dan masyarakat.

5.     Aneka perspektif dalam pendidikan matematika

Secara umum, terdapat aneka perspektif dalam pendidikan matematika yaitu aliran klasik dan aliran modern dalam pendidikan. Karena pendidikan matematika merupakan bagian dari pendidikan, maka aliran pendidikan matematika tidak terlepas dari aliran-aliran dalam pendidikan secara umum. Berikut ini akan di paparkan dua bagian aliran yang diambil dari web (Rahayu, 2011).

a.     Aliran-Aliran Klasik dalam Pendidikan

1)    Aliran Empirisme

Aliran ini menganut paham yang berpendapat bahwa segala pengetahuan, keterampilan dan sikap manusia dalam perkembanganya ditentukan oleh pengalaman (empiris) nyata melalui alat inderanya baik secara langsung berinteraksi dengan dunia luarnya maupun melalui proses pengolahan dalam diri dari apa yang didapatkan secara langsung.

2)    Aliran Nativisme.

Teori ini merupakan kebalikan dari teori empirisme, yang mengajarkan bahwa anak lahir sudah memiliki pembawaan baik dan buruk. Perkembangan anak hanya ditentukan oleh pembawaanya sendiri-sendiri. Lingkungan sama sekali tidak mempengaruhi apalagi membentuk kepribadian anak. Jika pembawaan jahat akan menjadi jahat, jika pembawaanyan baik akan menjadi baik. Jadi lingkungan yang diinginkan dalam perkembangan anak adalah lingkungan yang tidak dibuat-buat, yakni lingkungan yang alami.

3)    Aliran Konvergensi.

Faktor pembawaan dan faktor lingkungan sama-sama mempunyai peranan yang sangat penting, keduanya tidak dapat dipisahkan sebagaiman teori nativisme teori ini juga mengakui bahwa pembawaan yang dibawa anak sejak lahir juga meliputi pembaeaan baik dan pembawaan buruk. Pembawaan yang dibawa anak pada waktu lahir tidak akan bisa berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai dengan pembawaan tersebut.

4)    Aliran Naturalisme.

Aliran ini mempunyai kesamaan dengan teori nativisme bahkan kadang-kadang disamakan. Padahal mempunyai perbedaan-perbedaan tertentu. Ajaran dalam teori ini mengatakan bahwa anak sejak lahir sudah memiliki pembawaan sendiri-sendiri baik bakat minat, kemampuan, sifat, watak dan pembawaan-pembawaan lainya. Pembawaan akan berkembang sesuai dengan lingkungan alami, bukan lingkungna yang dibuat-buat. Dengan kata lain jika pendidikan diartikan sebagai usahan sadar untuk mempengaruhi perkembangan anak seperti mengarahkan, mempengaruhi, menyiapkan, menghasilkan apalagi menjadikan anak kea rah tertentu, maka usaha tersebut hanyalah berpengaruh jelek terhadapperkembangan anak. Tetapi jika pendidikan diartikan membiarkan anak berkembang sesuai dengan pembawaan dengan lingkungan yang tidak dibuat-buat (alami) makan pendidikan yang dimaksud terakhir ini betrpengaruh positif terhadap perkembangan anak.

b.     Aliran-aliran dalam pendidikan moderen

1)    Progresivisme

Progresivisme adalah gerakan pendidikan yang mengutamakan penyelenggaraan pendidikan di sekolah berpusat pada anak (child-centered), sebagai reaksi terhadap pelaksanaan pendidikan yang masih berpusat pada guru (teacher-centered) atau bahan pelajaran (subject-centered).

Pendidikan Progresivisme menganut prinsip pendidikan berpusat pada anak. Anak merupakan pusat adari keseluruhan kegiatan-kegiatan pendidikan. Pendidikan Progresivisme sangat memuliakan harkat dan martabat anak dalam pendidikan. Anak bukanlah orang dewasa dalam betuk kecil. Anak adalah anak, yang sangat berbeda dengan orang dewasa. Setiap anak mempunyai individualitas sendiri-sendiri, anak mempunyai alur pemikiran sendiri, anak mempunyai keinginan sendiri, mempunyai harapan-harapan dan kecemasan sendiri, yang berbeda dengan orang dewasa. Dengan demikian, anak harus diperlakukan berbeda dari orang dewasa.

2)    Esensialisme

Esensialisme modern dalam pendidikan adalah gerakan pendidikan yang memprotes gerakan progresivisme terhadap nilai-nilai yang tertanam dalam warisan budaya/sosial. Menurut esensialisme nilai-nilai yang tertanam dalam nilai budaya/sosial adalah nilai-nilai kemanusiaan yang terbentuk secara berangsur-angsur dengan melalui kerja keras dan susah payah selama beratus tahun dan di dalamnya berakar gagasan-gagasan dan cita-cita yang telah teruji dalam perjalanan waktu. Peranan guru kuat dalam mempengaruhi dan mengawasi kegiatan-kegiatan di kelas.

3)    Rekonstruksionalisme

Rekonstruksionalisme memandang pendidikan sebagai rekonstruksi pengalaman-pengalaman yang berlangsung terus dalam hidup. Sekolah yang menjadi tempat utama berlangsungnya pendidikan haruslah merupakan gambaran kecil dari kehidupan sosial di masyarakat

4)    Perennialisme

Perennialisme adalah gerakan pendidikan yang mempertahankan bahwa nilai-nilai universal itu ada, dan bahwa pendidikan hendaknya merupakan suatu pencarian dan penanaman kebenaran-kebenaran dan nilai-nilai tersebut. Guru mempunyai peranan dominan dalam penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar di kelas.

Menurut perennialisme, ilmu pengetahuan merupakan filsafat yang tertinggi, karena dengan ilmu pengetahuanlah seseorang dapat berpikir secara induktif. Jadi dengan berpikir, maka kebenaran itu akan dapat dihasilkan. Penguasaan pengetahuan mengenai prinsip-prinsip pertama adalah modal bagi seseorang untuk mengembangkan pikiran dan kecerdasan. Dengan pengetahuan, bahan penerangan yang cukup, orang akan mampu mengenal dan memahami faktor-faktor dan problema yang perlu diselesaikan dan berusaha mengadakan penyelesaian masalahnya.

5)    Idealisme

Aliran idealisme merupakan suatu aliran ilmu filsafat yang mengagungkan jiwa. Menurutnya, cita adalah gambaran asli yang semata-mata bersifat rohani dan jiwa terletak di antara gambaran asli (cita) dengan bayangan dunia yang ditangkap oleh panca indera. Pertemuan antara jiwa dan cita melahirkan suatu angan-angan yaitu dunia idea. Aliran ini memandang serta menganggap bahwa yang nyata hanyalah idea. Tugas ide adalah memimpin budi manusia dalam menjadi contoh bagi pengalaman. Siapa saja yang telah menguasai ide, ia akan mengetahui jalan yang pasti, sehingga dapat menggunakan sebagai alat untuk mengukur, mengklasifikasikan dan menilai segala sesuatu yang dialami sehari-hari.

KESIMPULAN

Matematika merupakan ilmu pengetahuan yang bersifat abstrak. Karena konsep-konsep dalam matematika sesuatu yang abstrak, maka tak heran apabila guru guru mengalami kesulitan dalam menanamkan konsep matematika ke siswa.

Karakteristik pendidikan matematika meliputi memiliki objek kajian konkret dan abstrak, pola pikirnya induktif dan deduktif, kebenaran konsistensi dan korelasional, bertumpu pada kesepakatan, memiliki simbol kosong dari arti dan juga berarti (berarti sudah masuk dalam semesta tertentu), dan taat kepada semesta, bahkan juga dipakai untuk membedakan tingkat sekolah.

Perkembangan pendidikan matematika tidak lepas dari berkembang kurikulum dari masa ke masa. Perkembangan pendidikan matematika di indonesia meliputi matematika tradisional (ilmu pasti), pembelajaran matematika modern, kurikulum matematika 1984, kurikulum tahun 1994, kurikulum tahun 2004, kurikulum 2006, dan kurikulum 2013.

Unsur-unsur dalam pendidikan matematika tidak jauh berbeda dari unsuk-unsur dalam pendidikan. Adapun unsur-unsur yang terdapat dalam pendidikan matematika antara lain peserta didik, pendidik, interaksi edukatif antara peserta didik dengan pendidik, materi / isi pendidikan, dan konteks yang mempengaruhi pendidikan.

Aneka perspektif dalam pendidikan matematika terbagi atas dua yaitu aliran klasik dan aliran modern. Dalam aliran klasik terbagi menjadi aliran empirisme, aliran nativisme, aliran konvergensi, dan aliran naturalisme. Sedangkan dalam aliran modern terbagi menjadi progresivisme, esensialisme, rekonstruksionalisme, perennialisme, dan idealisme.

 

DAFTAR PUSTAKA

Anitah, T. M., & Susanah. (2008). Modul 1 Matematika dan Pendidikan Matematika. Jakarta: Universitas Terbuka.

 

Azharro, Saputro, D., Melliza, F. M., & Safitri, Wi. (n.d.). Pendidikan dan Unsur-unsur Pendidikan. Diambil dari https://www.academia.edu/29521387/MAKALAH_Pengertian_dan_Unsur-unsur_Pndidikan

 

Meliana, W. (2015). Kurikulum dan Perkembangan Kurikulum Matematika Sekolah di Indonesia. Diambil dari https://www.kompasiana.com/wennimtsm/556c455f4d7a61e6038b4569/kurikulum-dan-perkembangan-kurikulum-matematika-sekolah-di-indonesia

 

Rahayu, E. F. (2011). ALIRAN-ALIRAN PENDIDIKAN. Diambil dari https://12entinfujirahayu.wordpress.com/2011/05/16/aliran-aliran-pendidikan/

 

Nuansa FIlsafat dalam Pendidikan Matematika

NUANSA FILSAFAT DALAM PENDIDIKAN MATEMATIKA   Anggoro Yugo Pamungkas 1 , m arsigit 2 1, 2 Pendidikan Matematika, ...