Rabu, 24 Oktober 2018

Nuansa Dunia dalam Filsafat Bersama Orang Tua Berambut Putih


Pertemuan ke-1 (Kamis, 13 September 2018)
Inilah hari pertama perkuliahan Filsafat Ilmu dengan Bapak Marsigit. Beliau merupakan dosen mata kuliah Filsafat Ilmu sekaligus Direktur Pascasarjana. Hari itu Pak Marsigit terlambat masuk, pada pukul 07.50 WIB beliau baru sampai di kelas. Awal pertama Pak marsigit, saya dan teman-teman merasa tegang, karena beliau adalah direktur pascasarjana dan apalagi beliau meminta posisi duduk diubah melingkar. Saya bertanya-tanya pada diri saya sendiri, “kok aneh ya? padahal sudah rapi terus kenapa diubah?”. Nah ternyata posisi duduk seperti ini membuat lebih dekat dan jelas.
Selanjutnya, perkuliahan diawali salam serta membaca Istighfar 5 kali, Al-Fatihah 1 kali dan Al-Ikhlas 3 kali. Pak Marsigit mulai berkenalan dengan para mahasiswa. Beliau menanyai nama dan asal mahasiswa satu-satu, ada yang dari sumatra, ada yang dari jawa, ada yang dari kalimantan, dan ada yang dari sulawesi.
Kemudian mahasiswa diminta untuk merekam pertemuan pertama ini. Saya berfikir, “Ini kok kuliahnya berbeda dengan yang lain ya?”. Selanjutnya membuka google dan mencari nama marsigit dipencarian google. Ternyata banyak sekali nama marsigit dalam pencarian google dan membuka wikipedia Pak Marsigit. Didalam wikipedia itu, berisikan biodata diri Bapak Marsigit. Setelah itu kami diminta melihat lokasi rumah Pak Marsigit di Map. Beliau mengatakan “hal itu menandakan bahwa Pak Marsigit benar-benar ada, nyata”. Oh ternyata alasannya seperti itu.
Setelah itu mahasiswa diminta membuka youtube dan mencari video ketoprak yang berjudul “rembulan kekalang UNY” dan diminta menyaksikan video ketoprak yang berdurasi hampir 4 jam tersebut. Nah saya bertanya-tanya lagi pada diri saya, “kok malah nonton youtube yang berdurasi hampir 4 jam, padahal perkuliahan hanya 100 menit?”. Ternyata Kami menonton hanya di bagian-bagian tertentu dari video tersebut, dimana di bagian-bagian video itu terdapat peran Bapak Marsigit sebagai raja.
Setelah selesai menonton youtube, mulailah memasuki pembicaraan tentang filsafat. Beliau mengatakan, belajar filsafat bisa dari mana saja, contohnya dari video ketoprak kekalang rembulan UNY tadi. Didalam video ketoprak ada tarian, politik, seni rupa, suara dan seterusnya. Didalam video ketoprak tadi, terdapat sisi-sisi kebaikan dan keburukan. Dalam filsafat, diriku ya diriku, dan dirimu ya dirimu. Belajar filsafat harus banyak membaca dan filsafat itu semuanya. Sebenar-benar filsafat adalah pikiran. Filsafat itu semua bisa menjadi referensi, setidakpenting apapun bisa menjadi awal ilmu filsafat dan sesuatu yang sepele bisa menjadi filsafat.

Pertemuan ke-2 (Kamis, 20 September 2018)
Inilah hari kedua perkuliahan Filsafat Ilmu dengan Bapak Marsigit. Kali ini beliau tidak terlambat masuk. Sebelumnya kami sudah membuat posisi tempat duduk seperti pertemuan sebelumnya. Pak Marsigit bertanya kepada mahasiswa apakah pertemuan pada minggu lalu sudah membuka wikipedia dan lain-lainya. Para mahasiswa menjawab sudah. Kemudian Beliau bertanya kepada para mahasiswa apa arti dari nama para mahasiswa. Salah satu mahasiswa yaitu Mas Darwis. Pak Marsigit menanyai arti namanya, dan Mas Darwis menjawab bahwa menurut ayahnya nama Darwis itu artinya orang yang mencari ilmu.
Beliau mengatakan bahwa orang yang berpendidikan, orang yang mengerti masa depan, orang yang mengerti adat pasti membuat nama dengan maksud, aturan, dan tidak sembarangan atau tidak asal. Ada pula nama-nama yang sensasional, tapi itu menentang arus, menentang kebenaran, dan menentang nurani, seperti memberi nama Setan, Tuhan. Namun, Pak Marsigit  mengatakan bahwa beliau belum pernah mendengar ada orang tua yang memberi nama anaknya dengan nama Allah, meskipun segila-gilanya orang tersebut. Pak Marsigit berpendapat  bahwa  mungkin  orang tua yang  memberi  nama  anaknya dengan  nama Tuhan mungkin berpikir bahwa Tuhan itu bisa selain Allah. Membuat nama asal bingung ya bisa saja, misal namanya “Siapa”, “Apa”. Kalau ditanya orang, “kamu namanya siapa?”. Terus  dia menjawab “Apa”. Kamu ditanya kok malah balik nanya? Makanya, sebagai orang tua jangan memberi nama anaknya dengan asal-asalan.
Pak  Marsigit  kembali  menanyakan  arti nama mahasiswa, mahasiswa tersebut yaitu Mba Eka, Mba Rindang, Mba Rosi, Mas Fabri, Mba Rahmi dan Mba Aan. Kemudian, Pak Marsigit menjelaskan arti nama beliau, secara klasik, secara kontemporer dan dari sudut pandang spiritual.
Secara klasikal, menurut beliau arti nama Marsigit dapat dibagi dalam dua suku kata yaitu kata Mar berarti tersamar atau tersembunyi, dan tersamar atau tersembunyi itu adalah hakikat ilmu. Sedangkan kata Sigit berarti bagus atau tampan. Sehingga secara utuh arti nama Marsigit adalah sebagai orang tampan  yang  selalu  mencari  ilmu. Namun berdasarkan sejarah, nama beliau merupakan keinginan ayah beliau agar anaknya pintar seperti gurunya yang bernama Marsigit.
Secara kontemporer, menurut beliau arti nama Marsigit dapat dibagi dalam tiga suku kata yaitu Mar, Si, dan Git. Mar diambil dari nama planet yaitu Mars, Si diambil dari kata dalam Bahasa Inggris yaitu see yang artinya melihat, dan Git yang juga diambil dari kata dalam Bahasa Inggris yaitu gate yang artinya pintu gerbang. Sehingga apabila secara utuh arti nama Marsigit  adalah sebagai  pintu  gerbang  menuju  Planet  Mars.
Dari Sudut pandang spiritual, menurut beliau merupakan yang paling berat dan memiliki nilai perjuangan. Marsigit jika ditarik ke dalam Bahasa Arab adalah Ma, Si, Jid atau Masjid. Masjid terdiri dari empat huruf arab yaitu: “Ma”, “Sin”, “Jim”, dan “Dal”. “Ma” itu berarti magfirah atau ampunan, “Sin” itu berarti sakinah/ teduh, aman, tentram, abadi. Sedangkan “Jim” itu berarti (hmm beliau lupa), dan “Dal” itu derajat, sehingga mampu memperoleh derajat baik di dunia maupun akhirat. Beliau mengatakan bahwa nama adalah doa dan motivasi, jadi haruslah mengandung arti yang baik-baik dan positif.
Selanjutnya dilakukan tes jawab singkat yang menjadi inti perkuliahan, dimana mahasiswa diminta menyiapkan selembar kertas yang telah diberi nama dan digunakan untuk menuliskan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan oleh Pak Marsigit. Adapun pertanyaannya sebagai berikut : Kenapa anda kuliah? Kenapa anda terlambat? Kenapa anda tampak sedih? Kenapa anda menulis? Kenapa anda mendengarkan pertanyaan saya? Kenapa anda duduk melingkar? Kenapa ruangannya dingin? Kenapa suara di luar masih terdengar? Kenapa terkejut? Kenapa menangis? Kenapa tersenyum? Kenapa bertengkar? Kenapa berbohong? Kenapa menyontek? Kenapa menyebarkan hoax? Kenapa benci? Kenapa menuduh? Kenapa tidak adil? Kenapa memfitnah? Kenapa tak mau mengerti?
Setelah seluruh mahasiswa selesai menjawab pertanyaan singkat tersebut, Pak Marsigit memerintahkan agar lembar jawaban mahasiswa ditukarkan pada teman untuk dikoreksi bersama. Menurut beliau jawaban dari mahasiswa tidaklah lengkap, kebanyakan jawaban tersebut telah mendzholimi hak jawaban lainnya yang belum sempat diutarakan. Menurut beliau jawaban dari 20 soal pertanyaan singkat   tersebut   haruslah   diawali dengan kata “Belum Tentu Karena”, kemudian baru bisa diikuti oleh jawaban yang ingin dituliskan oleh mahasiswa.
Sebagian manusia itu sering tergoda menganggap dirinya mengerti. Filsafat itu berbeda dengan matematika, jika dalam matematika yang tadinya tidak paham menjadi paham, maka sebaliknya dalam filsafat yang tadinya paham justru menjadi tidak paham.
Pak Marsigit menyampaikan bahwa tugas beliau adalah mengguncang-guncangkan pikiran para mahasiswanya. Seluruh  mahasiswa  mendapat  skor  0  pada  tes  jawab  singkat  di  atas, menandakan tugas Pak Marsigit berhasil. Terjadi goncangan di dalam pikiran itu tidaklah masalah, tetapi janganlah terjadi goncangan di dalam hati. Karena sedikit goncangan di dalam hati, maka menyebabkan datangnya syaiton/setan. 
Filsafat apabila ditingkatkan akan menjadi spiritual. Spiritual itu adalah perasaan, doa, kuasa Tuhan, namun tidak cukup hanya dengan pikiran. Prinsip-prinsip spiritualitas sebagian juga berlaku di dalam filsafat, misalnya dalam kehidupan sehari-hari bahwa manusia itu tidak boleh sombong. Sombong itu adalah godaan syaithon, dimana sombong itu menutup diri dan merasa bisa dibanding orang lain. Di dalam filsafat, ilmu yang paling tinggi adalah dimana seseorang merasa bahwa dirinya sudah tidak bisa memahami apapun. Sehingga dunia ini kontradiksi, dimana Marsigit tidak sama dengan Marsigit. Jika A = A maka itu harus terbebas dari ruang dan waktu, dan yang terbebas dari ruang dan waktu adanya di dalam pikiran.
Selanjutnya mahasiswa diminta menulis pertanyaan, Pak Marsigit menjawab pertanyaan dari Mba Rahmi tentang dimana letak perasaan Pak Marsigit. Letak perasaan Pak Marsigit harapannya ada pada seluruh yang ada di dunia dan di akhirat. Jika kita dapat menanyakan tentang letak perasaan maka kita juga dapat menanyakan letak pikiran. Letak pikiran juga ada pada seluruh yang ada di dunia dan di akhirat. Maka ini berkaitan pula dengan obyek filsafat, dimana obyek filsafat adalah apa yang ada dan yang mungkin ada. Apa yang ada berarti semua yang pernah engkau pikirkan dan yang sedang kau pikirkan. Sedangkan yang belum ada berarti belum ada di dalam pikiran. Contoh warna handphone, kita melihat berwarna hitam. Namun apabila handphone ditutup dengan kertas dan kita ditanya apa warnanya, pasti kita tau bahwa warnanya hitam. Hal itu karena handphone berwarna hitam sudah ada di dalam pikiran.


Pertemuan ke-3 (Kamis, 27 September 2018)
Inilah hari ketiga perkuliahan Filsafat Ilmu dengan Bapak Marsigit. Sebelum bapak datang kami sudah membuat posisi tempat duduk seperti pertemuan sebelumnya. Sebelum masuk pada inti perkuliahan, mahasiswa diberikan pengantar terkait dengan materi yang akan diberikan.
Kuasa Tuhan dapat menjawab filsafat, contohnya seperti tidak punya uang, lapar, dan mengantuk. Batuk kemudian menggunakan masker adalah salah satu contoh dari good behavior. Jaman dulu menggunakan masker justru membuat merasa malu kalau ketahuan sedang sakit. Justru menjadi munafik karena telah menyebarkan virus. Sesungguhnya sakit itu adalah suatu titik dimana derajat kita dinaikan oleh Allah SWT.
Merokok merupakan contoh dari bad behavior. Tidak semua orang menyukai adanya asap rokok. Ada yang tidak bisa merokok dan menggunakan rokok hanya untuk bergaya. Banyak anak kecil terkena pengaruh rokok biasanya karena ingin mencari jati diri. Dan masih banyak lagi contoh lainnya.
Kemudian seperti pertemuan sebelumnya dilanjutkan dengan menyiapkan selembar kertas yang akan digunakan untuk Tes Jawab Singkat. Adapun pertanyaan-pertanyaanya beserta jawabannya sebagai berikut. Apa sebab? Sebab. Sebab apa? Sebab. Mengapa sebab? Sebab. Sebab mengapa? Sebab. Bagaimana sebab? Mengada. Sebab bagimana? Sebab. Dimana sebab? Pikiran. Sebab dimana? Sebab. Bagaimana mengapa? Mengada. Mengapa bagaimana? Sebab. Mengapa dimana? Sebab. Dimana mengapa? Pikiran. Apa akibat? Mengada. Akibat apa? Sebab. Sebab akibat? Sebab. Akibat sebab? Akibat. Akibat akibat? Akibat. Dimana akibat? Pikiran. Akibat dimana? Akibat. Sebab sebab sebab? Sebab
Setelah itu mahasiswa diberi kesempatan untuk bertanya, adapun pertanyaan beserta jawaban pak marsigit sebagai berikut.
Pertanyaan pertama, “Mengapa Bapak membuat pertanyaan semacam itu?” (Dalam Tes Jawab Singkat)
Pak Marsigit menjawab bahwa objek filsafat meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Objek filsafat bisa disebut juga objek formal dan objek material. Maka sebenar-benar berfilsafat, sebenar-benar olah pikir dan sebenar-benar orang belajar adalah mengadakan dari yang mungkin ada menjadi ada di dalam pikiran. Alasan dari “Mengapa Bapak membuat pertanyaan semacam itu? (Tes Jawab Singkat)” adalah karena ingin menyadarkan atau mengadakan dari yang mungkin ada menjadi ada dalam suatu persoalan. Ketelitian pikiran seperti “apa sebab?”, sebab dari kata sebab yang berarti sebab. Sehingga apa yang ada di dunia ini adalah sebab. Sebab dari suatu sebab adalah sebab. Karena semua yang ada di dunia ini adalah sebab. Ada sebab primer dan sebab sekunder, sedangkan sebab yang utam dan pertama adalah Allah SWT. Ada sebab primer dan sebab sekunder. Ada sebab utama dan sebab yang pertama yaitu Allah SWT karena tidak ada sebab lagi yang mendahului-Nya. Setelah itu semua ciptaan adalah sebab. Bisa saja menjawab akibat atau sebab dan bisa saja menjawab ada. Ada apa? Ada sebab. Contoh apa itu akibat? Bisa saja dikatakan ada. Agar lebih bermakna (karena filsafat naik turun atau sesuai dengan tujuan mengenalkan adanya kata-kata akibat, sebab dan sebagainya), jawabannya bisa pengada. Bagaimana mengapa? Bagaimana adalah proses. Proses dalam filsafat yang substantif, ontologis, dan hakiki semua proses adalah mengada. Mengada dari ada menjadi pengada. Semua yang adalah pengada. Semua yang ada adalah mengada. Semua yang ada adalah ada. Mengapa berulang-ulang? Ini karena aturan. Aturan hirarkisnya adalah ada, mengada, kemudian baru pengada. Pengada itu hasil. Semuanya bisa dibolak-balik karena ingin membuat bingung pikiran untuk pembelajaran. Jika sudah pasti justru sulit belajar filsafat, maka belajar. Belajar filsafat adalah membongkar sesuatu yang sudah jelas di dalam pikiran manusia. Kebanyakan pikiran manusia terperangkap di dalam mitos. Mitos merupakan lawan dari logos. Logos itu berpikir atau berfilsafat. Sehingga mitos dapat disimpulkan tidak berpikir. Maka sebenar-benarnya hidup adalah mitos dan logos. Anak kecil belajar menggunakan mitos dimana mengerjakan sesuatu dimana kita tidak mengerti. Seperti kita menyuapi anak kecil, bermain dengan anak kecil dan sebagainya. Anak kecil tidak paham dengan apa yang kita lakukan. Naik ketingkat spiritual, mitos bukanlah mitos tetapi keyakinan yang harus diterima dalam yakin kita. Salah ruang dan salah waktu atau mempelajari filsafat sepenggal-sepenggal bisa berbahaya karena bisa berbeda makna. Filsafat tidak bisa dipadatkan dan dipercepat. Jika anak kecil memakai logos, maka tidak adakan bisa terlaksana. Contohnya saat kita akan memberi makan anak kecil, kita mengharuskan anak kecil untuk tahu apa itu makan terlebih dahulu. Hal tersebut tentu tidak bisa dilakukan kepada anak kecil karena bisa kelaparan. Dari yang problem solver justru bisa menjadi problem maker bila balajar filsafat secara tidak utuh. Hidup juga ada pilihan antara problem solver atau problem maker. Harus terus berikhtiar karena tidak ada barang yang ada di dunia selalu terwujud.
Pertanyaan kedua “Apakah semua pertanyaan punya jawabannya?”
Pak Marsigit menjawab bahwa semua pertanyaan pasti punya jawaban tapi tidak selalu harus dijawab. Sebenar-benarnya hidup adalah pertanyaan. Semua itu pertanyaan dan semua adalah jawaban. Tapi tidak semua pertanyaan harus dijawab dan tidak semua jawaban itu harus diucapkan. Didiamkan saja sudah merupakan jawaban. Contoh ada mahasiswa dari luar negeri dan mendapat beasiswa sebanyak 15 orang. Beasiswanya meliputi kuliah gratis dan biaya-biaya yang lainnya bisa dipikirkan sendiri tapi ada yang mengirim e-mail kepada Pak Marsigit berterimakasih telah memberikan beasiswa dan mohon minta bantuan dana untuk tinggal di Indonesia bersama dengan istrinya. Oleh Pak Marsigit tidak dijawab yang artinya tidak menjawabpun merupakan jawaban. Tidak setuju dengan filsafat adalah berfilsafat. Anti filsafat itu filsafat. Filsafatnya dalah antifilsafat. Karena tidak mau berpikir maka juga berpikir. Alat yang dipakai untuk belajar filsafat adalah bahasa analog. Analog itu tidak sekedar sama tapi analog itu komformitas dua keadaan atau dua dunia. Postingan pada blog Pak Marsigit kadang-kadang sulit dipahami karena menggunakan bahasa analog. Jika menunjuk hati, maka maksudnya banyak. Hati bisa cintaku, bisa imanku, bisa perasaanku, bisa akhiratku, bisa akidahku, bisa kuasa Tuhan melalui hati. Jika hati akhirat maka selain hati adalah pikiran. Pikiran adalah dunia. Bagaimana bisa membangun dunia dan akhirat? Berfilsafat itu menggunaan solusi. Berfilsafat itu berpikir menggunakan bahasa logos. Seperti semut membangun dunia menggunakan lumpur untuk membuat rumah, ikan menggunakan air untuk membangun dunia, tukang menggunakan bata untuk membangun dunia, dan hati kita membangun dunia dan akhirat menggunakan hati. Filsafat menggunakan pikiran dan bahasa. Caranya adalah cukup dengan A dan bukan A. A itu bisa semuanya seperti pulpen dan air. Bukan A itu seperti bukan pulpen dan bukan air. Dunia dan akhirat adalah air dan bukan air. Bukan air bisa saja neraka, bisa saja Tuhan, bisa saja ayat suci. Tertangkap semua disana dan tidak ada yang tersisa. Pak Marsigit juga bukan air. Sehingga dunia dan akhirat ini bisa Pak Marsigit dan bukan Pak Marsigit. Setiap ada dan yang bukan ada sudah bisa membangun dunia. Seorang filsafat harus bisa berpikir dengan mudah untuk membangun dunia tanpa berdarah-darah (berjuang). Hanya saja Pak Marsigit melihat sebagian besar tidak sedang dalam keadaan hidup. Apa hidup itu? Hidupnya batu, artinya kena air bisa pecah dan mengecil. Batu kecil juga bisa menjadi batu besar saat terendam lumpur. Hal tersebut merupakan hal yang sedang hidup. Contoh lain adalah ada tetangga yang meninggal dunia karena tukang tapi tidak ada pekerjaan dan hanya di rumah saja tidak berangkat. Sebenar-benarnya tetangga tapi sudah meninggal dunia karena sedang tidak bekerja sesuai pekerjaannya. Ada pula tetangga yang meninggal dunia karena pedagang tapi tidak punya modal. Baju dan jilbab juga bisa meninggal dunia karena sudah lama tidak digunakan dan hanya disimpan saja di lemari. Perusahaan juga bisa meninggal dunia karena logonya sudah terkelupas. Gunung juga bisa meninggal dunia karena sudah tidak dapat meletus lagi. Dalam berfilsafat itu adalah berpikir. Orang-orang yang sedang tidak berpikir adalah mayat-mayat yang berjalan. Seperti mahasiswa yang belum lulus Toefl tapi ingin lulus yudisium sehingga seperti mayat hidup. Jika ditingkatkan dalam spiritual, maka bisa dicontohkan sebagai orang-orang yang menaiki motor. Orang-orang tersebut adalah mayat hidup karena sedang berkendara dalam keadaan tidak berdoa. Orang-orang yang sedang melakukan ibadah haji di Makah juga merupakan mayat karena lupa dan bersendau gurau dalam melaksanakannya. Matinya spiritualitas adalah tidak berdoa. Matinya seorang ibu adalah tidak merawat bayinya. Matinya sebuah motor adalah saat dihidupkan tidak dapat menyala. Manusia sebenarnya terancam kematian mulai dari fisik sampai hati. Berfilsafat harus cerdas. Orang cerdas banyak yang tidak disukai orang terutama penguasa. Karena jika penguasa korupsi maka bisa ketahuan. Definisi hidup dan mati adalah pikiran manusia. Jika ingin absolutely maka lari ke kitab suci. Contoh di Al-Qur’an, apa yang tertulis disana terkait hidup dan mati.
Pertanyaan ketiga “Apakah kalau ‘dimana’ jawabannya selalu ‘pikiran’?”
Pak Marsigit menjawab bahwa belum tentu. Dihati juga bisa dihati. Karena berfilsafat harus dipikiran dulu. Setelah itu boleh di hati. Pikiran berada disetiap yang ada yang bisa dipikirkan. Contoh sedang memikirkan orang tua maka pikiran sedang di orang tua. Pikiran ada disetiap objek pikir yang bisa dipikirkan. Hati ada di setiap titik yang bisa dirasakan. Rasa secara analog bisa didoakan. Contoh hatiku ada di Palestina artinya sedang merasakan dan sedang berdoa untuk orang Palestina, hatiku ada di Korea karena mendoakan kedamaian di Korea, hatiku ada di para astronot karena mendoakan para astronot, dan lain sebagainya. Metode berpikir filsafat adalah mendalam-dalamkan sampai sedalam-dalamnya. Tidak bisa terjangkau lagi oleh pikiran walaupun sangat kecil dan sangat ringan bagi orang lain. Memperluas seluas-luasnya sampai tidak mampu menjangkaunya dalam pikiran walau bagai orang lain sangat sempit karena filsafat itu dirimu. Filsafat itu bacaanmu. Filsafat itu kata-katamu. Filsafat itu penjelasanmu. Maka, kuliah ini mempersilakan untuk berfilsafat sehingga bacalah dan buat comment di blog karena saat itulah sedang berfilsafat. Pak Marsigit tidak interfensi dan dipersilakan komentar secara bebas. Tidak perlu khawatir salah berbicara tetapi komentar yang berkualitas buruk, berbahaya, dan terancam kematian adalah menulis komentar tanpa berpikir dan tidak mengerti seperti hanya copy paste. Terancam mati bisa dari batu sampai langit. Mulai dari bentuk fisik sampai hatinya terancam kematian.
Pertanyaan keempat “Apakah diam itu good behavior?”
Pak Marsigit menjawab bahwa diamnya siapa? Matinya siapa? Mayatnya siapa? Diam pikiran, ramai dalam kesepian. Walaupun Pak Marsigit bertemu dengan orang banyak di Pascasarjana, tetapi hatinya sebenarnya sedang kesepian karena tidak ada teman yang bisa diajak berbicara filsafat. Sebenar-benarnya diam, sebenarnya tidak diam. Diam absolut hanya milik Allah SWT. Sebenar-benarnya manusia hanya bisa berikhtiar dan berusaha diam tapi tidak akan bisa diam. Orang mati juga tidak bisa diam karena hanya menumpang pada bumi dan bumi bergerak. Sehingga mayat-mayat seperti melakukan perjalanan berputar pada poros bumi dan mengelilingi matahari. Jika mayat-mayat diam justru semakin menjauh dari kita karena kita yang berjalan. Ketika pulang melewati kuburan kemudian melewatinya lagi dilain hari, artinya membersamai melakukan perjalanan berputar pada poros bumi dan mengelilingi matahari. Dua jet tempur yang memiliki kecepatan hingga 2.000 km/jam termasuk diam karena pilotnya bisa mengelilingi dunia hanya dengan 2 jam. Diam itu tergantung. Jika dua benda melakukan perjalanan dengan kecepatan yang sama maka dinamakan diam. Bernafas dalam dengan bernafas pendek kecepatannya berbeda sehingga tidak diam. Para mayat diam terhadap perjalanan manusia yang masih hidup. Tapi terhadap alam semesta, semua makhluk hidup melakukan perjalanan. Jika terhadap alam semesta mayat diam, maka tertinggal dari kita dan tercabut dari bumi. Seperti gelas minum berarti diam karena memiliki kecepatan berputar terhadap bumi dan mengelilingi matahari yang sama dengan manusia. Jika tidak diam maka manusia tidak akan bisa minum air yang ada di gelas dengan mudah. Air bisa masuk ke tangki karena kecepatannya sama. Jet tempur  bisa diisi bahan bakar dengan tangki udara karena kecepatannya sama. Ketika ada pertanyaan apakah diam itu baik? Jawaban dari Pak Marsigit adalah pertanyaan tersebut adalah pertanyaan orang awam. Seperti sedang didiamkan istrinya. Itu adalah kehidupan orang awam.
Pertanyaan kelima “Mengapa filsafat menggoyahkan yang mantap menjadi tidak mantap?”
Pak Marsigit menjawab bahwa kehidupan berfilsafat menggunakan ilmu. Pak Marsigit bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan karena menggunakan fisika sehingga belajar metafisika. Contoh metafisika bisa melalui warna handphone Pak Marsigit. Semuanya menjawab hitam padahal semuanya salah dan tidak ada yang menyadarinya. Ilmu fisika mengatakan, warna adalah gelombang pantulan dari benda karena sinar. Tapi yang sebenar-benarnya warna adalah milik yang terserap dari benda itu yang tidak dipantulkan. Maka warna hitam sebenarnya adalah pantulan dari cahaya yang memasuki mata. Apa yang dipantulkan kemata bukan warnanya melainkan yang terserap dari benda. Jadi warna handphone Pak Marsigit adalah selain hitam. Manusia pada hakekatnya dalam keadaan merugi karena salah tapi sebagian kecil dari mereka mengetahui kesalahannya. Berfilsafat merefleksikan diri dan bukan diri. Diri dan yang lainnya. Karena sebenarnya yang mantap itu sudah berupa menjadi mayat akibat tidak berpikir lagi. Berfilsafat adalah olah pikir yang sebenar-benarnya. Seperti warna handphone tadi, jika mantap mengatakan berwarna hitam maka tidak berpikir. Itulah mengapa manusia sering terperangkap oleh mitos. Pikiran kacau sedang mengalami disorientasi. Filsafat adalah sopan santun. Filsafat adalah kedudukan. Filsafat adalah adab. Filsafat adalah derajat. Untuk memperolah derajat yang tinggi, maka raihlah maghfirah, sakina, mawadah, dan warahmah. Hidup harus semangat agar tidak terancam kematian. Sebenar-benarnya mayat, sudah tidak berfungsi seperti dengan fungsinya. Itulah keterbatasan manusia.
Pertanyaan keenam “Bagaimana resep dari Pak Marsigit agar tidak mudah mengeluh?”
Pak Marsigit menjawab bahwa salah satu agar tidak mudah mengeluh adalah banyak ilmu. Ilmu itu dalam zikir atau ilmu dalam hati. Semua itu resep. Seperti resep nasi goreng, hanya ada satu tapi bisa dibuat 1000. Resep itu diatas, dilangit dan yang 1000 ada di bumi. Semua itu bayangan dari pikiran dan hati. Jika dinaikan, maka bayangan adalah kuasa Tuhan. Engkau disini karena bayangan diterima di UNY S2. Daftar diinternet (tercantum di langit) lalu turun sampai di ruangan ini duduk melingkar yang berupa bayangan dari kegiatan PMB yang ada di langit. Dunia ini adalah yang engkau pikirkan. Jika berpikir dunia baik dalam pikiran yang baik, maka baiklah dunia itu. Jika pikiran buruk, maka buruklah melihat dunia itu. Aku ada di Jakarta dan kamu juga ada di jakarta. Masing-masing mempunyai penilaian yang berbeda seperti menilai Jakarta. Jika Pak Marsigit menilai Jakarta 100, maka 100 lah Jakarta itu. Dalam spiritual, semuanya tergantung dari niatnya atau motifnya. Niat atau motif mengalahkan ilmu atau pikiran. Niat atau motif di dalam hati. Hati menguasai pikiran. Maka, niat dalam hati dinaikan menjadi strategi, menjadi motif, tujuan, bersama-sama menjadi politik. Seperti dalam politik nasional bisa memilih Prabowo atau Jokowi. Jika ingin memilih Prabowo, maka baiklah Prabowo dan buruklah Jokowi. Jika ingin memilih Jokowi, maka baiklah Jokowi dan buruklah Prabowo. Dari pada begitu, jika Pak Marsigit akan menghindari hal semacam itu karena pasti akan terbelah. Seperti seorang kyai sebaiknya tidak berbicara masalah politik kecuali berpikir secara parsial. Dalam artinya dunia Jokowi separuh dan Prabowo separuh. Hidup yang bahagia menurut versi filsafat yaitu kerjakan apa yang kamu pikirkan, pikirkan apa yang kamu kerjakan, doakan apa yang kamu kerjakan, doakan apa yang kamu pikirkan, dan doakan apa yang kamu doakan. Doa juga kamu doakan. Dosen yang tidak mengerti jadwal juga bisa mengancam kematian. Kematian bisa dimana-mana dan sisanya adalah kehidupan.

Pertemuan ke-4 (Kamis, 4 Oktober 2018)
Inilah hari keempat perkuliahan Filsafat Ilmu dengan Bapak Marsigit. Sebelum bapak datang kami sudah membuat posisi tempat duduk seperti pertemuan sebelumnya. Pada pertemuan ini setelah berdoa mahasiswa langsung diperintahkan untuk mengeluarkan kertas seperti biasa, untuk menjawab tes jawab singkat.
Adapun pertanyaan-pertanyaan dan jawabannya sebagai berikut: Mengapa terkejut? karena tidak harmoni. Mengapa jatuh? jatuh pada. Anda melihat apa? bayang-bayang atau bayangan. Anda mendengar apa? bayangan. Anda memikirkan apa? bayangan. Anda menyentuh apa? bayangan. Anda merasakan apa? bayangan. Anda memikirkan apa? bayangan. Siapa anda? Tesis. Siapa mereka? Tesis. Siapa diriku? Tesis. Apakah ini? Tesis. Siapa selain kamu? Anti tesis. Siapa selain diriku? Anti tesis. Apalah artinya? Metafisik. Bolehkah? Semua ga boleh tergantung ruang dan waktunya. Loh? tidak sehat. Semua keheranan, keterkejutan itu tidak sehat. Yang sehat itu smoot. Filsafat itu smoot. Keterkejutan, bikin kejutan itu tidak sehat. Distraktif, tidak harmonis. Wadaw? tidak sehat. Asyik? pengada, karena dia hasil dari pada proses. Orang yang mengatakan asyiikk, itu berdasarkan proses yang tarjadi di depannya aatau sebelumnya. Wahai? determin. Menjatuhkan sifat kepada yang lain. Maka sebenar-benarnya hidup adalah determin. Tak akan ada hidup jika tidak jatuh pada. Kamu bisa lahir ke dunia ini karena bapak mu jatuh pada ibu mu. Tujuan hidup itu, pada hakikatnya jatuh pada atau determin. Maka lahirlah paham determinisme. Orang yang suka menjatuhkan sifat. Eh kamu, tukang tarlambat, terlambat baru sekali dikatakan tukang tarlambat, jadi saya menjatuhkan sifat pada dia. Sudah ku cap, ku klaim dia sebagai orang yang tukang tarlambat. Dosa saya. Saya direktur, ada yang datang minta tanda tangan. Saya menentukan nasib orang lain, jatuh pada, aku tanda tangan itu, apa? Keikhlasan saya itu jatuh pada bahwa kamu itu siap mengikuti yudisium, tanda tangan jatuh pada.
Setiap gerakanku itu adalah aliran filsafat. Maka Pak marsigit itu filsafatnya itu adalah metafisik. Trans. Beyond. Filsafat, Kalo  dosen baru ya, Menurut sokrates, filsafat adalah jawab anak-anak. Mahasiswa kok anak-anak. Tengok yang lain-lainnya bagaimana perbandingan perbedaan pembelajaran. Menurut saya, filsafat adalah diriku sendiri. Engkau yang sedang menjelaskan itulah engkau sedang berfilsafat.  Mengapa mesti engkau sedang menjelaskan engkau terkoneksi pak marsigit. Silahkan ngomong sendiri, aku memfasilitasi supaya kamu bisa berfilsafat. Gituloh maksudnya. Mau ngomong apa saja silahkan. Supaya tidak terancam kematian. Namun harus memperhatikan sopan santun terhadap yang lebih diatas kita.
Selanjutnya mahasiswa diberi kesempatan untuk bertanya, adapun pertanyaan beserta jawaban pak marsigit sebagai berikut.
Pertanyaan pertama “Apa itu lupa ?”
Terkait dengan masalah ‘lupa’. Lupa merupakan penyesuaian ruang dan waktu. Terjadinya lupa bila terputusnya pikiran dan realita. Sebenar-benarnya hidup adalah di atas pikiran dan realita. Bahkan mungkin realita adalah bayangan diri kita. Di dalam pikiran, terdapat banyak logika sampai tak terhingga.  Logika merupakan konsep- konsep yang terhubung dalam diri kita yang mempunyai bayangan. Bayangan tersebut dapat berasal dari mana pun. Salah satunya dari trans, trans adalah sesuatu yang tidak kita ketahui tetapi berpengaruh terhadap diri kita. Banyak hal yang menjadi contoh trans, semisal kejadian ekonomi  global,  kita  tidak  mengetahui  apa  yang  terjadi  sebenarnya  tetapi  kita  terkena dampaknya. Pikiran akan terus bekerja seiring berjalannya waktu. Ketika usia sudah lanjut, maka pikiran akan teringat masa lampau tentang kejadian  atau rutinitas  yang dialaminya.  Disinilah bukti bahwa logika masih berjalan. Terkadang ada bayang-bayang yang muncul tetapi sebenarnya itu tidak nyata  atau terkadang salah mengimajinasikan bayangan. Hal tersebut disebabkan  oleh logika yang masih berjalan yang berkaitan dengan memori. Ada pertanyaan dari mahasiswa tentang bagaimana filsafat bekerja dalam kehidupan ? Filsafat bekerja dalam kehidupan dengan mengerjakan apa yang kau pikirkan dan pikirkan apa yang kau kerjakan. Doakan apa yang kau pikirkan, doakan apa yang kau kerjakan.
Pertanyaan kedua “Apa itu tesis?”
Tesis itu semua yang ada secara filsafat. Semua adalah tesis dan di luar semua yang ada adalah anti tesis. Semisal, saya adalah anti tesis air. Begitu juga sebaliknya. Pembahasan tesis dan antithesis menimbulkan sintesis
Pertanyaan ketiga bagaimana manusia yang sebenar-benarnya hidup?”
Manusia yang sebenar-benarnya hidup adalah sesuai ruang dan waktu. Saya ada dan hidup di sini sekarang, namun tidak di tempat lain ataupun di waktu lain
Pertanyaan keempatbagaiamana dengan bayangan dalam diri?”
Bayangan bergantung pada pikiran dan rasa. Seperti halnya pikiran memuat hal yang ada dan mungkin ada. Begitu juga dengan rasa yang ada dan mungkin ada. Pikiran tidak akan mampu menjelaskan semua rasa. Sehebat hebat kalimatku/ perkataan tidak bisa mengejar pikiran. Sehebat hebat tulisan tidak bisa mengejar ucapan. Sehebat-hebat tindakan tidak melaksanakan semua tulisan. Kita tidak bisa mengejar segalanya dengan penuh, apalagi spiritual.  Jangan mencoba untuk bermain pikiran dalam hal spiritual. Tuhan merupakan sebab pertama dan utama. Kita harus berada pada jalur yang benar agar terhindar dari ancaman kematian. Yang dimaksud ancaman kematian adalah kemunafikan atas tidak mengakui keTuhanan

Pertemuan ke-5 (Kamis, 18 Oktober 2018)
Inilah hari keempat perkuliahan Filsafat Ilmu dengan Bapak Marsigit. Sebelum bapak datang kami sudah membuat posisi tempat duduk seperti pertemuan sebelumnya. Pada pertemuan ini terdapat beberapa pertanyaan-pertanyaan mahasiswa beserta jawaban dari Pak Marsigit sebagai berikut.
Pertanyaan pertama “Apa itu sabar?”
Pak Marsigit menjawab bahwa sabar itu sesuai ruang dan waktunya. Menyesuaikan terhadap ruang dan waktu. Itu sabar. Jadi menyesuaikan antara penglihatan, pemikiran, pendengaran, dan tindakan terhadap ruang dan waktunya yang sesuai. Kemudian juga sifat menerima, toleran. Nah, kita itu punya dua arah, arah keluar dan arah kedalam. Sifat toleran itu adalah mengurangi suatu sifat determinis terhadap suatu sifat kepada sifat yang lain. jadi deterministic, diterministik yaitu menyadari diri sendiri bahwa tidak semata-mata dikarenakan diriku tetapi diriku itu hanya sebagian dari sifat-sifat yang ada. Bahwa masa depan saya itu tidak semata-mata karena diriku tetapi karena diri orang lain dan juga paling penting karena kuasa Tuhan. Jadi kalau sudah dikurangi, diturunkan egonya karena ego itu potensi menjadi seorang determinis. Determinis itu jangan dikira sepele ya. Sepele, tidak sepele itu tergantung kita paham atau tidak. Dari yang kita tidak menyadari sampai kita menyadari. Contoh, tembok ini. tembok itukan dicat berwarna cream, andai kata bisa usul dulu-dulunya minta dicat warna biru misalnya, kan dari dulu sampai sekarang tembok itu berkelu kesa terus sesuai dengan orang yang dulu mengecat tembok itu sehingga berkarakter cream, karena ditutup oleh cat. Jadi saya mengecet itu ditermin, menentukan nasib tembok. Jadi jatuhnya sifat cat terhadap tembok. Kamu memandang saya itu sifat ditermin. Kalau kamu memandang saya dengan ditermin paling ekstrim yaitu kamu memandang saya sampai saya itu pingsan. Iya to? Nah, itu determin itu. Jatuhnya sifat pandanganmu kepada saya. Sampai saya itu pingsan. Maka hidup itu ya ditermin. Tetapi haraplah sesuai dengan ruang dan waktu. Kan begitu. Jadi misalnya, agar setelah ditermin kita sadari kita turunkan, kita kemudian mencari referensi kesadaran akan struktunya. Misalnya saya difitnah orang, dizolimi, diberitakan sebagai yang tidak baik. Padahal itu tidak cocok dengan saya, atau dikenakan berita hoax. Nah, Kemudian bermacam-macam mulai dari ditermin saya sampai laporkan ke polisi. Saya punya cerita, dulu waktu saya punya murah awal itu rumah saya, saya bangun disebuah pekarangan jauh dekat sawah, kebun-kebun dikelilingi pohon bamboo. Setiap saat itu kalau ada angin, pohon bambunya itu tumbang kena atap rumah saya, kena kabel dan putus padahal listrik. Suatu ketika saya ngomong sama yang punya bamboo. Pak ini bambunya gimana ya? Apa saya beli atau bagaimana? Ternyata jawabnya walau tidak langsung, tapi intisarinya ternyata seperti duluan mana bambu atau rumah saya. Jadi, kalau misalnya ini sifat menerima saya, saya punya sifat menerima sabat, punya rasa sabar dan kemudian mencari referensi pemikiran. Tetapi manusia itu tidak punya daya ya. Kecuali atas pertolongan Tuhan. Saya percaya itu. Percaya pertolongan Tuhan itu, percaya saya. Jadi saya punya pengalaman, terus terang saja begitu. Jadi cari referensi, berikhtiar, berikhtiar. Pada saat itu, ya saya itu diberitahu ada seorang kiai yang doanya Makbul. Suatu ketika saya datang ke Kiai itu, ngomong apa adanaya. “Pak Kiai, saya itu rumah saya selalu ditimpah pohon bambu, gimana solusinya?”. Lalu diambil air putih didoa-doai sama Pak Kiai. Ya karena sudah masuk ke situ saya ikut saya perintah pak Kiai, “ini tolong ya, Nak.. ini nanti yang separuh untuk mandi”. Saya lakukan betul loh.."ketawa-ketiwi". Tertekan batin, lanjut kata kiai “ terus nanti separuh, masukan ceret atau ember gitu. Baca doa ini. Terus habis magrib jiprat-jiprat ke pohon bamboo itu”. Wes, bertahan satu bulan dua bulan. Setelah itu, yang punya bamboo itu punya anak disuruh bikin rumah di situ, tapi ngk mau. Karena ngk mau, dan mungkin merasa ngk enak dengan saya karena merasa mendzolimi begitu terus loh ya. Ngk mau dibikin rumah, akhirnya dijual. Duitnya dipake untuk naik haji. Terus yang beli itu adalah sekretaris camat, orang kaya. Terus pekarangannya itu dibangun rumah. Gapuranya dari batu, jadi taman. Dari mana asal-usulnya. Yang pentingkan Alhamdullilah ikhtiar saya atas pertolongan Tuhan, terkabul. Tidak ada lagi masalah bamboo. Nah kalau barokah itu dari Tuhan, saya dapat barokah yang sana juga dapat barokah, gitu loh. Jadi, ya Tuhan barokah hanya untuk saya saja ya Tuhan. Ya tidak bisa. Barokah itu untuk semuanya. Jadi kalau mau berdoa, ya Jokowi barokah, Prabowo juga barokah. Kalau doa saja sudah parsial, menungsa saja bingung, kalau Tuhan kan tidak ada istilah bingung toh?. Cuma paling-paling marah. Iya toh?. Itu kenyataan yang saya omongkan. Jadi kalau ke tempat saya, tidak ada lagi pohon bamboo. Ya kalau saya pergi itu, bagaimana logika kita? Karna itu hanya pasrah, sabar, pasrah, ikhtiar. Iya toh? Dan bagaimana sekarang kiai, logikanya seperti apa? Begini. Manusia itu kan punya kelemahan kelebihan. Kelemahan manusia itu tidak bisa mnejangkau semuanya. Anda itu punya potensi doa, semuanya punya potensi doa. Tapi ketika anda fokus berdoa, berdoa itu bisa ditingkatkan kualitas ditambah-tambah. Kan begitu. Doanya baik ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya, lama-lama mudah-mudahan bisa makbul. Begitu berdoanya kan begitu. Tapi kalau saya gitukan terus, kapan aku jadi direktur? Kapan aku mengajar? Ngk sempat toh? Aku fokus dipesantren sana saja, iya toh? Tak bisa kemana-mana antara lain kan begitu. Maka solusinya, bagaimana caranya, iya toh? Ketika kita bekerja, tetap bisa tetap dalam berdoa. Tetapi dalam kenyataannya kurang efektif. Undang rapat, magrib jam 6, bingung toh? Lah magriban kapan? Undang rapat jam 3 pas Ashar. Ada tamu dari sana, jam sekian. Terus mengurangi kadar doanya. Yang minta tolong, manusia kan saling minta tolong-menolong. Minta tolong pak Kiai untuk fokus kesana, sedang fokus ke doa. Setiap hari berdoa, mudah-mudahan doanya makbul. Gitu logika saya. Bukan kemana-mana. Anda itu semua berpotensi menjadi ahli doa. Kalau memang fokus ke sistu. Itu yang saya katakana antara sabar dan menerima, tidak semata-mata urusan manusia loh, dunia itu. Jangan engkau pikir, hooo, kalau begitu ini aturan hokum loh, melanggar ke sini, tuntut pasal sekian, nomor sekian, ditahan dua bulan atau satu tahun. Kalau saya di kampong begitu, sudah hancur-hancuran loh. Sekampung dia itu, saudara semua loh. Saya kan pendatang. Jangan berani-berani dikampung itu mentang-mentang ngerti hokum kemudian dibawa ke Jakarta, ngk bisa hidup kayak gitu. Untuk kampung itu harus masuk NU, iyo toh? Nunut Urip. Sekampung itu Nunut Urip bae, melu. Kalau bisa ya syukur, kalau ngk bisa ya bijaksana yang penting komunikasi. Dikampung itu bersama-sama, ditempat saya itu ngk pandang agama kok. Walaupun 100% itu Islam, Kiai, ada yang kristian di situ satu, tapi karena dia itu bergotong royong, guyup, ya sudah tidak jadi masalah. Begitu…. Jadi di kampung itu yang penting kebersamaan, itu loh mba, tadi ya pertanyaanmu toh. Jadi setiap pertanyaan itu, dunialah. Kalau anda setiap kali bertanya, saya menggambarkan dunia kita, dunia saya, yang saya alami seperti itu. Ya itu biso tak sebul, tapi mungkin kan belum begitu makbul doanya loh, karena apa? Tadi naik tingkat ini ngos-ngosan, atau tergesah-gesah, macam, macam, macam. Andai kata saya sekarang dalam keadaan berpuasa, tentu lebih makbul lagi. Harapannya begitu. Harapan loh, ketentuan kan ada di sana, dunia kan harapan, orang hanya berikhtiar. Kalau kita ngk sabar, kayak gini (gelas aqua menonjol kebawah) aja bisa marah loh. Apa salahnya dia kita marahi, kalau kita ngk sabar. Kan pertanyaannya tentang kesabaran. Jadi kalau kamu melihat potensi tidak sabar dan tidak menerima kalau kamu melihat sekitar itu adalah dari sisi kamu. Apalagi bersifat ditermin, merasa bisa. Peran saya merasa bisa, dia harus begini, dia harus begitu, dia harus ikut saya, macam-macam, sebagai kakak kamu harus begini, kalau ngk sesuai saya marah. Itu sangat deterministic. Determinis itu menentukan orang lain, menentukan nasib tembok. Begitu.
Pertanyaan kedua “Pandang filsafat dalam pelecahan agama itu seperti apa?”
Pak Marsigit menjawab bahwa kita harus selalu berhati-hati, karena hal ini merupakan berasal dari komunitas korban hoax. Agama jika dalam kajian kita masuk kedalam spiritualitas, sedangkan pelecahan itu termasuk pemanfaatan bahasa. Bahasa tidak akan mampu mencerminkan pikiran, maka terkadang pikiran saja tidak terlalu lengkap apalagi bahasa ada yang disadari, tidak disadari, sepenggal-penggal dan sebagainya. Sehingga hal tersebut bisa memberikan suatu makna berbeda terhadap  apa yang dimaksudkan, maka dari itu akan menimbulkan suatu pelecehan. Pelecehan agama itu terjadi jika tidak menerapkan dalil-dalil sesuai dengan ruang dan watunya, maka apalah daya pikiran kita dalam memikirkan agama, hal tersebut hanya bisa kita rasakan ketika kita berdoa. Namun ketika berdoa, apakah kita mengerti maksud semua dari doa? Sebagian doa yang kita hafal itu, ada yang kita tidakpahami artinya. Tidak paham itu artinya pikiran, tetapi kenapa kita laksanakan sedangkan kita disini tidak memahaminya. Alasannya karena punya hati yang memilikki keyakinan. Jadi walaupun aku tidak paham aku memiliki sebuah keyakinan bahwa dengan membaca doa ini akan diridhoi oleh Tuhan.
Pertanyaan ketiga “mengapa sulit mencerna tulisan ?”
Pak Marsigit menjawab bahwa caranya baca baca dan baca, terus-menerus diulangi. Kenapa sulit? karena sebagian ditulis dengan bahasa analog. Bahasa analog merupakan bahasa metafisik, dimana metafisik itu ialah maksudnya ada dalam makna sebaliknya. Jadi yang kita lihat, dengar dan rasakan itu merupakan kualitas pertama, sedangkan metafisik merupakan kualitas kedua, ketiga, dan seterusnya. Sampai kapan ? tidak akan berakhir, ini yang dinamakan dengan infinitrigres. Misalnya hati, hati bisa bermakna doa, spiritual, kuasa tuhan.
Pertanyaan keempat “Apa di dunia ini ada yang berlaku sebagai bukan benar dan bukan salah?”
Pak Marsigit menjawab bahwa banyak sekali, misalnya saya dan kamu itu merupakan bukan benar dan bukan salah. Contoh A adalah himpunan dari x dimana x ≠ x, apakah x anggota himpunan A? Jawabannya x merupakan angota dan bukan anggota himpunan A, jadi x itu merupakan benar dan bukan benar sebagai anggota A. Kenapa? Karena kedua unsur tersebut ada dalam himpunan A. Begitupun dalam berfilsafat jika kita salah menempatkannya akan berbahaya. Bahayanya berfilsafat jika tidak memperhatikan ruang dan waktu, parsial, dan salah paham. Misalnya, bisakah tuhan menciptakan batu yang dangat besar sedemikian rupa sehingga tuhan sendiri tidak mampu mengangkatnya. Kalau Tuhan bisa membuat batu berarti Tuhan tidak bisa mengangkat batu itu sedangkan Tuhan pasti bisa mengangkat batu itu, tetapi kalau Tuhan bisa mengangkat batu itu berarti Tuhan tidak bisa membuat batu. Lantas dimana salahnya? Itu bukan salah bukan benar. itu karena negatif dan positif dijadikan satu. Maka, janganlah coba-coba bermain-main dengan unsurnya syaitan. Janganlah berkompromi dengan syaitan, jangan coba-coba berteman dengan syaitan, hiduplah yang lurus-lurus saja, jurusan surga, yang baik-baik saja, caranya berdoalah dalam keadaan apapun. Doa yang paling tinggi adalah memanggil/menyebut nama Tuhan. Jika satu saja doamu didengar oleh Tuhan maka kamu masuk kedalam kapsulnya Tuhan. Dan jika kamu berada didalam kapsulnya Tuhan, maka aman dan selamatlah hidupmu di dunia dan akhirat. Namun, bermilyar-milyar kamu memanggil nama Tuhan belum tentu didengar oleh Tuhan, maka agar doa mu didengar didengar oleh Tuhan setiap agama mempunyai metotodologinya masing-masing. Urusan dunia yang memuat akhirat dan urusan akhirat yang memuat dunia karena adanya infinitigres (pikiran) dan jika dinaikkan lagi karena adanya kuasa Tuhan.
Pertanyaan kelima “Apa itu cinta, kasih, rindu dan sayang?”
Pak Marsigit menjawab bahwa cinta, kasih, rindu, benci dan sayang filsafatnya adalah Romantisism. Jadi semua itu ikonik, tergantung pikiran anda masing-masing. Dunia itu romantis. Ikonik itu ada yang dekat dan ada yang jauh. ikonik itu dekat dengan determinism. Pertempuran dan perebutan kekuasaan bisa juga disebut dengan Romantisism, maka pertempuran antar negara bisa juga isomorfis (setara dengan percintaan). Dari sisi ikonik romantis, sebenar-benar hidup adalah romantis. Sedangkan dari sisi ekonik ekonomi, sebenar-benar hidup adalah ekonomi. Dan sebenar-benar dunia adalah seperti apa yang engkau pikir dan rasakan.
Pertanyaan keenam “bagaimana menyeimbangkan dan menyelaraskan antara pikiran, hati dan perbuatan?”
Pak Marsigit menjawab bahwa cara menyeimbangkannya adalah jalani pikiran anda, wujudkanlah pikiran anda dalam bentuk tindakan dan pikirkan tindakan anda kemudian doakan pikiran anda dan doakan tindakan anda. Merentang dan menjalani timeline waktu dari yang kemarin, sekarang dan yang akan datang. Dan jika dirangkum menjadi satu disebut dengan Hermenetika. Hermenetika berasal dari kata Hermein yaitu seorang dewa di jaman Yunani. Dewa Hermein dianggap sebagai dewa yang mampu mendengar bisikan Tuhan yang kemudian disampaikan kepada masyarakat. Maka Hermein berarti menterjemahkan dan Hermenetika berarti menterjemahkan dan diterjemahkan. Dalam bahasa jawa disebut dengan Cokro Manggilingan, Cokro itu bundar dan Manggilingan itu berjalanan. Jadi, Cokro Manggilingan adalah sesuatu yang bundar yang berjalan.  
Pertanyaan ketujuh “bagaimana mengatakan yang mungkin ada?”
Pak Marsigit menjawab bahwa mengatakan yang mungkin ada yaitu dengan cara Hermenetika, Cokro Manggilingan, dan belajar. dan salah satu contoh dalam pembelajaran ini yaitu dengan tes jawab singkat, jadi fungsi tes jawab singkat adalah untuk mengatakan dari yang mungkin ada menjadi ada. Maka kapanpun sadar tidak sadar kita pasti menemukan fenomena berubahnya yang mungkin ada menjadi ada. Manusia itu sangat terbatas dan lemah karena manusia hanya mampu melihat sepotong gambar saja karena tidak ada yang mengabadikan setiap momennya. Yang mampu mengabadikan setiap detiknya hanya kamera Tuhan.
Pertanyaan kedelapan “apa itu Apriori?”
Pak Marsigit menjawab bahwa Apriori itu paham tetapi belum melihat, mendengar atau mungkin belum menyentuh. Contoh: kamu memahami bahwa kamu memiliki jantung, maka dikatakan pemahamanmu tentang jantung itu bersifat Apriori. Manusia bisa ke planet mars walaupun belum penah ke planet mars. Tapi dia sudah merancang pesawat untuk dapat ke planet Mars, itu dinamakan Apriori. Apriori banyak manfaat tapi ada juga bahayanya. Misalnya, mencari pasangan hidup dengan metode Apriori. Paham walaupun belum ketemu. Itu berbahaya karena sudah mengundang tamu, pengunjung, saksi-saksi, catering komplit, jalan di tutup. Ditunggu 2 jam, 3 jam, tapi tidak datang-datang mempelai prianya. Satu jam kemudian di telpon ternyata masih berada di luar pulau. Di telpon orang tuanya si wanita, “tadi mempelai prianya kemana ya?” lalu dijawab,“mancing kali”. Histerislah di perempuan, lalu orang tua mempelai perempuan bertanya, “ini pasti atau tidak?”. Anak menjawab,” ya pasti pak, di pikiran saya dan saya ketemu dari facebook pak”. Baru bertemu lewat facebook belum jelas orangnya seperti apa tapi sudah merencanakan mau menikah itu juga Apriori. Contoh: Pak Marsigit menawarkan akan melamar sang wanita idaman anaknya sebagai calon menantu dengan syarat dibawa terlebih dahulu ke rumah dan diperkenalkan dengan keluarganya. Kemudian melihat calon anaknya tersebut secara langsung sehingga paham dan mengerti bagaimana orangnya. Ini disebut Aposteriori. Aposteriori yaitu berpikir tingkat rendah. Tikus, kucing, tidak bisa Apriori kecuali kucing garong yang bisa berpikir dan merencanakan apa yang dia mau. Kucing biasa bisa berpikir kalau sudah melihat itu dinamakan Apriori. Anak kecil memegang, melihat, baru memikirkannya bahwa ini segiempat. Anak kecil berpikir Apriori tidak bisa berpikir Aposteriori. Membayangkan besok di surga ingin membangun rumah, catnya warna biru, hal ini tidak cukup dengan Apriori tapi harus dengan iman dan taqwa. Orang cerdas sesuai dengan ruang dan waktu.
Pertanyaan kesembilan “bagaimana salah dan benar dalam filsafat? Apakah wadah dan isi?”
Pak Marsigit menjawab bahwa bahasa analog, wadah dan isi. Jika wadahnya suami, maka isinya istri. Jika wadahnya kakak, maka isinya adik. Jika wadahnya wadah maka isinya isi. Jika wadahnya ruang maka isinya waktu. Jika wadahnya waktu maka isinya ruang. Kenapa isi isinya wadah? Kaena infinitrigres  terus menerus. Jika wadahnya langit maka isinya bumi. Jika wadahnya dompet maka isinya duit.
Pertanyaan kesepuluh “bagaimana agar bisa terus konsisten?”
Pak Marsigit menjawab bahwa tidak pernah menginjak bumi supaya bisa konsisten. Sekali menginjak bumi maka tidak konsisten. Karena bumi tidak konsisten. Hidup ini tidak konsisten, kontradiktif. Berlaku A tidak sama dengan A, Karena terikat pada ruang dan waktu. Jika ingin konsisten terus maka tinggalkan saja bumi. Orang yang sudah meninggal sudah konsisten amal dan perbuatannya sudah tetap. Yang masih bisa berubah-ubah ketika masih di bumi.
Pertanyaan kesebelas “Benar dan salah”
Pak Marsigit menjawab bahwa benar dan salahnya pikiran itu konsiten atau tidak konsisten. Benar dan salah kenyataan itu adalah cocok dan tidak cocok.  Cocok dan tidak cocok yaitu korespondensi. Konsisten sama dengan koherensi.
Pertanyaan keduabelas “penyesalan?”
Pak Marsigit menjawab bahwa penyesalan itu termasuk romantis. Tapi dalam pikiran yang dinaikkan dalam spiritualitas, penyesalan yaitu mohon mpun atas segala dosa.
Pertanyaan ketigabelas “Apakah bapak punya gengsi?”
Pak Marsigit menjawab bahwa “ya setiap saat punya gengsi saya”. Gengsi terhadap yang tidak sesuai dengan ruang dan waktu. Kita harus gengsi sama setan. Tumakninah, istikomah, dan amanah terhadap ruang dan waktu. Banyaknya pengalamn hidup itu penting walaupun ada yang memalukan. Misalnya setelah sholat subuh malah sholat lagi, sholat jenazah menggunakan sujud sampai jamaahnya pada pergi, tentu hal tersebut membuat malu atau gengsi karena tidak sesuai dengan ruang dan waktu. Gengsi ada hubungannya dengan “menerima” kalau memang bener ya menerima. Pengalaman naik lift dari lantai 3 menuju lantai 7, mereka tahu kalau sudah penuh, tapi Pak Marsigit tetap saja masuk. Akhirnya tidak bisa. Walaupun berstatus sebagai direktur tidak bisa meminta yang lainnya untuk keluar begitu saja dan akhirnya Pak Marsigit sendiri yang keluar. Tidak boleh gengsi, tapi harus diterima dengan ikhlas. Akhirnya memutuskan untuk naik tangga. Dengan keikhlasan dunia dibalik menjadi Alhamdulillah.
Semoga Pertemuan-pertemuan ini dapat membuat dunia kita menjadi lebih baik. Aamiin.

Nuansa FIlsafat dalam Pendidikan Matematika

NUANSA FILSAFAT DALAM PENDIDIKAN MATEMATIKA   Anggoro Yugo Pamungkas 1 , m arsigit 2 1, 2 Pendidikan Matematika, ...